kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.107
  • LQ45958,38   4,52   0.47%
  • SUN97,12 0,58%
  • EMAS621.140 0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Dengan teknologi, kinerja lebihi target

Oleh IG. N. Askhara Danadiputra
Dengan teknologi, kinerja lebihi target

 

Ke depan, Pelindo III akan tetap menjadi perusahaan penyedia jasa kepelabuhanan. Meski begitu, bisnis-bisnis lain di pelabuhan, seperti pasokan minyak dan gas, air bersih, listrik, dredging, depo, dan lain-lain, diharapkan di masa mendatang bisa mendukung 40% dari pendapatan kami.

Saat ini, langkah diversifikasi ini masih menyumbang 5% pendapatan. Tapi dua tahun mendatang, kami perkirakan bisa mencapai 40%.

Saya juga menginisiasi transformasi budaya kerja di lingkungan Pelindo III. Transformasi budaya ini boleh dikata tidak terlalu susah, lantaran rata-rata usia pegawai Pelindo III itu 43 tahun.

Jadi, 60% pegawai Pelindo III itu masuk generasi Y dengan rentang umur 25 tahun sampai 38 tahun.

Generasi Y ini selalu menginginkan perubahan baru dengan ide-ide segar. Inilah yang kami hadirkan dalam tubuh Pelindo III.

Contohnya, setiap hari Rabu sampai Jumat, pegawai diperbolehkan menggunakan jeans, t-shirt, dan sepatu kets.

Saya juga menekankan aturan pulang jam 6 sore setiap hari untuk karyawan back office. Kalaupun ada kerjaan, semua bisa dilakukan lewat e-mail.

Aturan ini saya berlakukan karena saya menyadari pentingnya efek kedekatan pada keluarga dengan kreativitas serta kegembiraan pada jiwa seseorang, sehingga kerja pun tidak stres.

Kalau karyawan bekerja tanpa stres, tentu ia akan mampu memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

Dalam tubuh Pelindo III juga tidak ada sekat-sekat yang membatasi antara direksi dengan karyawan. Kalau Anda perhatikan di kantor kami, seperti di kantor perwakilan Jakarta ini, semuanya serba-kaca sehingga orang bisa melihat.

Saya juga punya grup Whatsapp yang anggota direksinya cuma saya saja. Sisanya adalah pegawai generasi Y. Bahkan senior vice president pun tidak. Hanya pegawai biasa dan saya.

Ini saya lakukan karena saya ingin mengetahui langsung informasi serta masukan dari pegawai. Tiga bulan sekali, saya juga bertatap muka dengan para staf serta melakukan listening tour ke anak-anak perusahaan.

Semua ini saya lakukan supaya semua pemikiran mereka itu bisa sampai ke saya.

Untuk memutus budaya sungkan, saya memulainya dengan memberikan insentif. Misalnya, siapa yang paling sering berinisiatif berkomunikasi dengan saya akan mendapat hadiah.

Lama kelamaan, sifat seperti enggan ngobrol pun hilang dan komunikasi antara manajemen dan karyawan bisa cair.

 


Close [X]