kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.463
  • LQ45935,48   10,30   1.11%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Disiplin militer dan bisnis

Oleh Bernard Kent Sondakh
Disiplin militer dan bisnis

Tidak mudah bagi saya membangun karier di dunia bisnis setelah saya pensiun dari dunia militer tahun 2005. Waktu pertama saya ditawari bergabung ke Cheil Jedang (CJ) Indonesia tahun 2006, saya sempat ragu untuk menerimanya.

Latar belakang saya militer, terus diajak masuk dunia bisnis yang sangat berbeda. Setelah ditimbang masak-masak, akhirnya saya terima bekerja di induk usaha PT Graha Layar Prima Tbk.

Awal masuk dunia bisnis, saya menjabat sebagai komisaris. Saya menjadi komisaris CJ Indonesia itu sekitar tujuh tahun. Saya mulai serius melihat dan belajar bisnis, belajar strategi mengembangkan usaha.

Kesimpulan saya, disiplin dan penguasaan taktik menjadi kunci di bisnis. Ini klop dengan latar belakang saya.

Sebagai seorang militer, saya sudah terlatih dalam hal disiplin. Jadi lebih mudah bagi saya memahami disiplin ini. Sejak jadi prajurit, hingga pensiun sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut saya sudah hidup dalam disiplin.

Di sinilah saya menemukan korelasi dunia militer dan bisnis. Bekal ini sangat berguna bagi saya saat kemudian dipercaya menjadi Direktur Utama Graha Layar Prima.

Saya menyadari, orang yang sekarang saya pimpin itu bukan militer tapi orang sipil yang profesional. Sehingga saya harus tahu diri dan mulai mengubah cara kepemimpinan saya agar dapat masuk ke dunia mereka.

Tentu itu semua membutuhkan proses. Saya memulai dari nol lagi. Karena ilmu saya tentang bisnis bioskop ini belum ada sama sekali. Tapi saya selalu sadar, saya punya staf yang ahli dan pakar ilmu bioskop.

Nah sebagai pemimpin saya menggerakkan mereka ini. Tugas seorang pemimpin itu adalah memunculkan keterampilan dari orang-orang yang dia pimpin.

Di sinilah ilmu dan pengalaman saya di militer menjadi sangat membantu dan relevan dalam mengembangkan bisnis.

Kedisiplinan juga saya terapkan dalam melakukan pekerjaan mulai dari perencanaan, pengaturan dan pelaksanaan. Kemudian saya selalu melakukan kontrol. Sebab seorang pemimpin perlu mengetahui hasil kerja anak buahnya di lapangan.

Maka, saya sering meninjau bioskop-bioskop CGV secara diam-diam ke sejumlah daerah. Kemudian saya selalu mengevaluasi apakah sistem operasional di sana sudah sesuai dengan yang ditetapkan oleh perusahaan mulai dari kantor pusat.

Kalau misalkan belum, saya mengajak mereka untuk mendiskusikannya untuk mencari solusinya.

Dari sana saya menemukan banyak masukan dan hal-hal baru yang kemudian dapat diterapkan untuk mengembangkan perusahaan. Tentu untuk melakukan itu semua dibutuhkan ketulusan hati seorang pemimpin.

Hal ini juga sesuai dengan motto hidup saya yakni bekerja dengan sungguh hati. Artinya, dalam bekerja, apa yang dilakukan bukan untuk menyenangkan hati atasan atau pemilik saham, namun bekerja untuk menghasilkan sesuatu.

Ibarat gelas, harus terus diisi sampai suatu hari gelas tersebut penuh.

Perumpamaan gelas ini bagi saya cocok disampakan kepada karyawan. Saya selalu mengatakan kepada mereka kalau gelas ini penuh dan melimpah, itu ibarat kesejahteraan karyawan yang ikut melimpah.

Artinya bila setiap pekerja di perusahaan ingin agar pendapatannya meningkat, supaya hidupnya lebih sejahtera, maka mereka juga harus bekerja dengan baik, lebih giat, agar kinerja perusahaan terus meningkat sehingga hasilnya dapat juga mereka nikmati.


Close [X]