kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.870
  • LQ45928,00   -15,43   -1.64%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS609.032 -0,82%

Harus lebih agresif saat persaingan ketat

Oleh Riko Abdurrahman
Harus lebih agresif saat persaingan ketat

Transaksi pembayaran menggunakan kartu menunjukkan tren terus berkembang. Kue bisnis pembayaran ini volumenya juga masih besar. Namun, tak bisa banyak pesaing masuk terutama nontradisional.

Kepada Jurnalis KONTAN Fransiska Firlana, Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia Riko Abdurrahman membeberkan tantangan bisnis di industri transaksi pembayaran nontunai.

Saya mengawali karier sebagai seorang engineer. Saya bekerja di Boston sebagai structural engineer selama empat tahun.

Minat kepada dunia marketing muncul setelah selesai kuliah MBA, dan bergabung di Citibank pada 1996. Lalu sempat ke ABN Amro, dan ANZ.

Nah, saat di ANZ baru dua tahun, saya ditugaskan ke Manila, Filipina menangani perusahaan joint company di sana, namanya Metrobank Card Corporation. Saat itulah saya menjabat sebagai presiden direktur.

Setelah delapan tahun di negeri orang mulai terpikir untuk kembali ke tanah air. Saya sudah puluhan tahun berkarier di perusahaan multinasional. Di tempat itu saya banyak belajar.

Di perusahaan multinasional itu semua serba teratur. Sumber daya manusia sudah sangat ahli di bidangnya.

Jadi di setiap divisinya sudah pasti ada best practis-nya. Saya pun bisa belajar dari para best practice di bidangnya dari berbagai Negara.

Karena semua serba teratur ini membuat gampang dalam pengelolaan manajerial perusahaan. Tapi justru itulah yang menjadi tantangannya bagaimana membuat sesuatu yang baru, saat semua sudah tersedia mulai prosedur standar operasi, juga kebijakan-kebijakan.

Ketika saya masuk ke sebuah perusahaan, meski sudah ada SOP yang diberlakukan, saya selalu melihatnya. Sebab semua SOP itu belum tentu benar, tetap harus ada evaluasi.

Itulah tantangannya, saya harus terus challenging the status quo. Karena kalau enggak begitu, ya enggak pernah belajar, hanya sekadar ikut yang sudah ada.

Saya punya prinsip, saat hadir di perusahaan baru, saya harus memberi nilai tambah.

Pas di Citibank, saat mau buka cabang, materialnya harus diimpor semua, lantaran SOP demikian. Saya dan tim coba challenge. Memang vendor Indonesia tidak bisa bikin?