kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.063
  • EMAS656.000 -0,23%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%
EXECUTIVE / CEO's TALK

Industri butuh jaminan kualitas dan pasokan

oleh Milawarma - Presiden Direktur Tambang Batubara Bukit Asam

Selasa, 07 Februari 2012 / 10:47 WIB

Industri butuh jaminan kualitas dan pasokan

Tahun ini, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk terus menggenjot produksi batubara seiring permintaan pasar dunia dan domestik yang meningkat. Lantas, apa saja rencana dan strategi perusahaan itu untuk meningkatkan volume pengiriman komoditas batubara? Jurnalis KONTAN Titis Nurdiana dan J. Ani Kristanti menemui Presiden Direktur PT Bukit Asam Milawarma di kantornya, Kamis (26/1) pekan lalu.

Peluang pasar batubara pada tahun 2012 cukup besar. Peluang pasar terbesar datang dari China, yang kemudian, disusul oleh Taiwan dan India.

Tahun lalu, pasar ekspor mengambil 35% dari total penjualan batubara PT Bukit Asam yang mencapai 13,8 juta ton. Ekspor batubara terbesar masih ke China (11%), lalu disusul ke Malaysia (7%), Jepang (5,5%), dan Vietnam (4,5%).
Memang, selama ini, selain Jepang dan Malaysia, China sudah menjadi pasar tradisional batubara produksi Bukit Asam.

Bahkan, baik Bukit Asam maupun perusahaan penambang batubara lain di Indonesia belum bisa memenuhi besarnya kebutuhan di sana.

Untuk mengisi peluang itu, kami ingin meningkatkan target operasional. Tahun ini, kami menargetkan penjualan 18,6 juta ton atau naik 35% dari penjualan 2011. Target penjualan itu akan ditopang oleh peningkatan produksi hingga 16,4 juta ton atau naik 23% dari 2011.

Selain peluang pasar yang besar, target kenaikan produksi dan penjualan ini juga didukung oleh kenaikan komitmen angkutan kereta api. Sejak 2010, PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah menambah enam lokomotif. Sepanjang 2011, mereka juga menambah jumlah lokomotif sebanyak 12 unit.

Pada tahun ini, KAI akan meningkatkan komitmen menaikkan kapasitas pengangkutan batubara hingga 32% dengan menambah beberapa gerbong dan perbaikan jalur. Komitmen angkutan nantinya akan mencapai 15,6 juta ton per tahun.

Selain memasok di pasar ekspor, Bukit Asam juga memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sama seperti pasar ekspor, selama ini, kebutuhan batubara domestik juga meningkat. Salah satunya karena ada tambahan permintaan dari Perusahan Listrik Negara (PLN).

Selama ini, pengiriman batubara Bukit Asam ke PLN dan anak perusahaannya mencapai 80% dari pasokan ke domestik. Sisanya, Bukit Asam memasok beberapa perusahaan semen dalam grup Semen Gresik, baik Semen Padang maupun Baturaja.

Infrastruktur produksi

Tahun ini, Bukit Asam menganggarkan capital expenditure (belanja modal) sebesar Rp 1,3 triliun yang berasal dari dana internal perusahaan. Kami akan menggunakan modal usaha ini untuk investasi rutin maupun pengembangan.

Investasi rutin lebih banyak untuk pengembangan infrastruktur produksi dan infrastruktur pelabuhan. Ada tiga proyek yang sedang dan akan dikerjakan.

Pertama, kami akan meningkatkan kapasitas pelabuhan di Lampung menjadi dua kali lipat, yakni menampung 25 juta ton batubara per tahun.

Saat ini, pengembangan pelabuhan ini sedang memasuki tahap konstruksi. Kami berharap proyek ini selesai pada 2013, sehingga pada 2014, kapasitas pelabuhan sudah berlipat. Biaya pengembangan pelabuhan tahun ini mencapai Rp 570 juta.

Kedua, Bukit Asam juga berencana membangun jalur rel kereta api ke pelabuhan, yakni Bukit Asam Trans Railway. Jalur kereta sepanjang 307 kilometer ini akan menghubungkan Tanjung Enim dan Lampung.

Izin pembuatan jalur rel sudah keluar, demikian juga lembar kerjanya. Hanya saja, investasi ini masih menunggu revisi UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Minerba dan PP 23/2010 sebagai aturan pelaksananya.

Pasalnya, ketika izin pembangunan rel keluar, terbit UU Minerba baru (UU No. 4/ 2009). Alhasil, skema antara proyek tambang dan proyek infrastruktur harus diperbaiki lagi. Sebab, skema lama tak sesuai dengan UU baru dan PP 23/ 2010.

Sesuai UU Minerba itu, Bukit Asam akan membuat perusahaan tambang yang mempunyai izin usaha penambangan (IUP) untuk tambang di Bangko Tengah, Tanjung Enim. Perusahaan ini akan menerima pengalihan kuasa penambangan (KP) dari Bukit Asam.

Di dalam perusahaan ini, selain Bukit Asam, PT Rajawali juga akan ambil bagian dengan komposisi 65:35. Mereka masuk dalam skala komersial. Jadi, kalau revisi sudah selesai, proyek pembangunan jalur rel segera dimulai.

Ketiga, masih dalam rangka pengembangan infrastruktur produksi, Bukit Asam akan mengembangkan PLTU di mulut tambang. PLTU jenis ini, secara ekonomis, memang available untuk batubara kualitas rendah atau kurang dari 4.000 kcal/kg.

Sebab, batubara kualitas ini sudah tak layak untuk dijual. Pengiriman batubara yang memiliki kadar air 40% dan abu 10% ini sama saja dengan mengangkut pengotornya. Sehingga, lebih baik kalau kami mengubahnya menjadi sumber energi di tempat, dengan memanfaatkan sebagai bahan bakar PLTU di mulut tambang.

Pembangunan PLTU mulut tambang ini sudah kami mulai. Selain untuk dipakai sendiri, kami juga memasok listrik hasil PLTU ini kepada PLN.

PLTU mulut tambang pertama berkapasitas 3 x 10 megawatt (MW) di Pelabuhan Tarahan. Proyek ini selesai Maret mendatang. Listriknya kami pakai untuk mendukung produksi, baik operasional maupun kebutuhan domestik.

PLTU kedua akan kami bangun dengan kapasitas 2 x 8 MW di Pelabuhan Lampung. Kini, proyek PLTU yang akan menggunakan batubara reject itu sedang dalam tahap konstruksi. Kami berharap PLTU ini rampung pada tahun 2013.

PLTU ketiga berkapasitas 2 x 110 MW di Banjarsari. Pembangunan PLTU ini sudah dimulai sejak 2011. Kami berharap bisa beroperasi pada 2014.

Proyek ini merupakan joint venture dengan PT Pembangkit Jawa Bali dan beberapa perusahaan swasta nasional. Bukit Asam memegang mayoritas saham, yakni 59%. Listrik dari pembangkit ini dijual ke PLN.

Kami membangun PLTU keempat 2 x 620 MW di Tanjung Enim. Kami sudah memenangi proses tender dan menandatangani perjanjian dengan PLN. Kepemilikan (share) Bukit Asam di proyek ini 45%, sisanya adalah China Huadian Corporation. PLTU ini akan beroperasi tahun 2016.

Dari seluruh PLTU ini, kami memperkirakan akan ada penambahan kebutuhan batubara sekitar 6 juta ton. Yang jelas, selain meningkatkan penjualan, PLTU juga akan menambah pendapatan Bukit Asam.

Selain berbagai proyek pengembangan infrastruktur, kami juga masih menghadapi proses hukum berkaitan dengan pengalihan KP aset tambang di Lahat. Yang penting, proses pengalihan ini harus transparan karena menyangkut aset negara.

Di lahan pertambangan seluas 26.000 hektare tersebut, ada cadangan batubara sekitar 200 juta ton dengan potensi nilainya mencapai US$ 2,2 miliar.

Secara keseluruhan, total cadangan tertambang batubara Bukit Asam mencapai 2 miliar ton. Sedangkan sumber daya batubara yang dimiliki Bukit Asam mencapai 7,3 miliar metrik ton. Ini dari semua site, termasuk di Sumatra Selatan, Sumatra Barat, dan Riau.

Kami yakin bisa menghadapi persaingan yang semakin berat, seiring banyaknya investor di pertambangan. Yang kami lakukan adalah meningkatkan daya saing. Kami cukup yakin karena mempunyai pengalaman operasional, pengalaman melobi pasar, jaminan kualitas, dan pa-sokan batubara.

Industri besar membutuhkan jaminan kualitas dan pasokan batubara, bukan harga yang kompetitif.


Reporter: Milawarma
Editor: aricatur

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0105 || diagnostic_api_kanan = 0.1234 || diagnostic_web = 0.5210

Close [X]
×