kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.870
  • LQ45928,00   -15,43   -1.64%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS609.032 -0,82%

Jangan bilang tak bisa sebelum mencoba

Oleh Budi Waseso
Jangan bilang tak bisa sebelum mencoba

Posisi sebagai Direktur Utama Perum Bulog memang berbeda dengan berbagai posisi yang pernah saya jalani selama berkarier di Kepolisian.

Namun apa pun posisinya, semua memiliki persamaan yakni menjadi abdi negara dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.

Saya tahu bahwa pengalaman saya sebagai polisi cukup panjang dan semua pekerjaan yang diberikan saya selesaikan dan tak ada yang tak selesai hingga saya pensiun.

Ketika saya diminta untuk memimpin Perum Bulog, maka hal pertama yang saya lakukan adalah belajar. Sebab jujur saja, saya tak mengetahui banyak hal tentang pangan.

Apalagi, jabatan terakhir saya sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Direktur Utama Bulog sangat bertolak belakang.

Dulu ketika menjadi Kepala BNN, saya harus menekan pasokan dan peredaran narkoba, dan kali ini saya justru harus memperbanyak pasokan pangan di masyarakat.

Saya percaya bahwa pemerintah menunjuk saya memimpin Bulog karena saya dinilai mampu membenahi perusahaan ini.

Saya terbiasa menduduki posisi baru saat masih di Kepolisian. Makanya, ketika duduk di posisi baru sebagai pimpinan utama Bulog, saya harus bisa menyesuaikan diri saya dalam institusi ini, serta menggunakan prinsip pengabdian agar semua dijalankan tanpa beban.

Bagi saya, dalam hidup ini seseorang tak boleh mengatakan tidak bisa bila ada kemauan untuk mencoba. Ini bukan soal pandai atau bodoh, tapi mau atau tidak.

Saya selalu berpandangan ketika saya ditempatkan pada posisi baru yang belum pernah saya jalani sebelumnya, pasti ada rasa keberatan atau merasa tugas ini apa bisa saya laksanakan.

Tapi, bila orang lain bisa melakukannya, berarti saya pun bisa. Karena orang lain punya kemampuan dan saya pun demikian.

Dari kemauan kelak akan berkembang menjadi kemampuan. Ketika kemauan tetap besar dan kemampuan sudah terasah, maka semua pekerjaan akan bisa dilakukan dengan baik.

Selain itu, sebagai orang baru dalam satu pekerjaan, saya tak pernah sungkan untuk bertanya tentang tugas saya dan meminta bantuan kepada orang lain yang notabene bawahan saya karena mereka yang paling paham tentang posisi baru saya ini.

Ketika semua pekerjaan baru ini bisa dipahami dan siap dilaksanakan, maka saya akan mencurahkan diri saya untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Bisa dikatakan saya dicetak atau dilahirkan sebagai abdi negara, maka pekerjaan terkait urusan negara saya siap melaksanakannya.

Mengatasi masalah pangan jelas tak kalah penting dibandingkan mengurus masalah keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), makanya saya ketika tahu tugas saya di Bulog dan dirasa mampu, saya pun menerima tugas tersebut.

Namun, satu hal yang saya tekankan ketika saya baru memimpin adalah saya tak akan menetapkan target pribadi dalam pekerjaan itu, seperti berapa lama menjabat serta penghargaan apa yang harus diraih.

Saya adalah tipe pemimpin yang mengalir dengan tugas yang saya kerjakan. Prinsip saya bila saya bekerja bagus, pimpinan dan masyarakat puas, maka saya tak akan diganti.

Sedangkan bila kinerja saya buruk dan pimpinan diatas saya tak suka dan masyarakat pun protes, maka saya selalu siap untuk diganti kapan saja. Bagi saya, seorang abdi negara harus bekerja dengan keikhlasan.