kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.595
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS610.041 0,33%
EXECUTIVE / CEO's TALK

Kami tak ingin menyaingi BCA atau Mandiri

oleh Hadi Sukrianto - Direktur Utama PT BPD Jawa Timur

Selasa, 10 Juli 2012 / 11:27 WIB

Kami tak ingin menyaingi BCA atau Mandiri



Jumat, 6 Juli 2012, merupakan hari terakhir pendaftaran investor ritel yang ingin membeli saham perdana PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Timur (Jatim). Menurut rencana, Kamis (12/7), Bank Jatim sudah bisa tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagaimana sepak terjang Bank Jatim ke depan? Direktur Utama PBD Jatim Hadi Sukrianto membeberkan rencananya kepada jurnalis KONTAN Andri Indradie, Kamis (5/7), akhir pekan lalu.

Slogan kami itu “Bank Jatim Banknya Masyarakat Jawa Timur”. Jadi, saya dan teman-teman cuma memiliki satu tugas: bagaimana Bank Jatim ini makin dikenal dan menjadi milik masyarakat Jawa Timur. Memasyarakatkan Bank Jatim di Jawa Timur itulah tugas kami.

Nah, kini timbul pertanyaan, bagaimana mencapai tujuan itu?

Begini, 10 November 2011 kami mengganti logo lama dengan logo baru bergambar sayap garuda dengan lima sayap. Lima sayap itu memberi arti lima landasan dan strategi kami. Namanya strategi FIRST.

Pertama, huruf F itu ada di kata “professionalism”. Profesionalisme berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM). Bank Jatim harus selalu bisa menghadapi tantangan baru dan memberi pelayanan profesional.

Kedua, huruf I ada di kata “partnership” atau kerja sama. Kami ingin menjadi partner terbaik nasabah, terutama masyarakat Jawa Timur.

Ketiga, huruf R ada di “care”. Care ini berarti kepedulian. Bank Jatim harus peduli kepada nasabah dalam memberikan pelayanan.

Lalu, keempat, S berada di kata “services” yang berarti layanan. Bank Jatim berharap konsisten dengan kualitas layanan.

Terakhir, huruf T ada dalam kata “trustworthy” atau kepercayaan. Bank Jatim harus menjadi bank tepercaya dan mampu menjaga kepercayaan nasabah.

Itu semua kemudian beriringan dengan prinsip BPD sebagai regional champion yang mempunyai tiga pilar: ketahanan kelembagaan kuat, mampu menjadi agent of regional development, dan mampu melayani kebutuhan masyarakat, terutama masyarakat Jatim.

Ketahanan berarti Bank Jatim sehat, baik dari sisi modal dan rasio-rasio tingkat kesehatan terpenuhi.

Menjadi agen pengembang daerah artinya Bank Jatim turut meningkatkan perekonomian daerah.

Terakhir, memenuhi kebutuhan masyarakat berkaitan dengan edukasi produk, mempermudah akses layanan layanan keuangan, SDM berkualitas dan profesional. Lalu, memperluas jaringan dan mengoptimalkan peran Bank Jatim sebagai konsultan keuangan pemerintah daerah.

IPO untuk cari modal

Nah, bagaimana mencapai itu semua? Bank Jatim harus punya modal kuat. Bagaimana kami bisa bertumbuh kalau enggak punya modal? Selain bermodal FIRST itu tadi, modal dana juga penting. Oleh karena itu saya bersyukur para pemegang saham akhirnya menyetujui kami untuk menjadi perusahaan terbuka dengan menawarkan
saham di bursa efek.

Kami berharap saham Bank Jatim bisa terdaftar di bursa efek minggu ini. Mungkin tanggal 12 Juli ini. Kami berharap bisa mendapat dana Rp 1,28 triliun. Hampir
Rp 1,3 triliun. Hasil itu kami peroleh dari menawarkan sekitar 2,98 miliar saham karena harga per saham Rp 430.

Untuk porsi penjatahan saham, kami bagi 70%–30%. Investor besar-besar mendapat alokasi 70%, sementara investor kecil 30%. Untuk investor kecil atau ritel, kami prioritaskan mereka yang berasal dari Jatim juga. Sekitar 85% diserap domestik, sisanya asing.

Kami sudah mencoba road show ke Malaysia, Hong Kong, dan Singapura. Permintaan oversubscribe 1,5 kali, lo. Maksudnya, saham Bank Jatim ini banyak peminatnya.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, hasil penawaran perdana saham ini akan kami gunakan untuk menambah modal penyaluran kredit. Perinciannya, sekitar 80% untuk penyaluran kredit, 10% menambah jaringan, 10% lagi mengembangkan infrastruktur teknologi informasi (TI).

Posisi Bank Jatim sampai pertengahan Juni kemarin, laba berjalan sekitar Rp 466 miliar. Kredit tumbuh menjadi sekitar Rp 17,7 triliun, dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang masih Rp 16,1 triliun. Dana pihak ketiga (DPK), yaitu deposito, tabungan, dan giro, naik juga jadi Rp 23,3 triliun. Sebelumnya masih Rp 20,1 triliun.
Rasio kredit dengan DPK, ya, di kisaran 76,35%. Terus, posisi rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) kami sekitar 20,99%.

Jadi, dengan uang hasil IPO nanti, kami berharap bisa menjaga rasio permodalan sampai akhir tahun masih sekitar 21%–22%.

Kami menargetkan kredit bisa tumbuh sekitar 23%–24% per tahun. Selain itu, Dana Pihak ketiga (DPK) kami akan tumbuh sekitar 17% dan laba meningkat 1,2% lah. Dengan berbagai pencapaian ini, saya kira, CAR Bank Jatim sampai 2016 akan berada di kisaran 16%–17%.

Potensi Jawa Timur

Target itu tidak muluk, kok. Kami tak punya ambisi setelah IPO terus menjadi bank nasional dan menyaingi BCA atau Bank Mandiri. Tidak. Kami ingin dekat dengan masyarakat Jatim saja. Yah, memang harus bisa berkompetisi dengan bank lain, tapi di daerah Jatim saja.

Untuk itu, sisa dana IPO tadi akan kami pakai untuk lebih mendekatkan Bank Jatim dengan masyarakat.

Pertama, kami akan menambah 25 kantor cabang dan 120 mesin ATM sampai akhir tahun nanti. Yang baru sebenarnya delapan kantor cabang baru, sisanya sekitar 17 kantor kas kami jadikan kantor cabang. Itu pun semua di Jatim. Di luar Jatim, kami tidak buka kantor cabang, kecuali Jakarta yang rencananya akan kami buka tiga cabang baru.

Kedua, dana IPO juga akan kami pakai untuk mengembangkan infrastruktur TI. Ini penting guna pengembangan produk. Mendekatkan diri ke masyarakat butuh meningkatkan layanan dan pengembangan produk, contohnya, ya, lewat TI ini.

Untuk strategi penyaluran kredit, saya kira Bank Jatim akan memberi porsi lebih besar terhadap kredit usaha kecil seperti usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan koperasi, Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta kredit-kredit kecil lainnya. Porsinya sekitar 80%. Sisanya, baru kredit-kredit besar untuk perusahaan, sekitar 20%.

Sementara ini, memang kami masih besar di kredit konsumer, tapi ke depan kami akan pelan-pelan ke sana, ke UMKM.

Jadi begini, akhir 2011 Indonesia masih tumbuh sekitar 6,5%, inflasinya sekitar 3,8%. Nah, Jatim itu pertumbuhan ekonomi sampai 7,22%.

Ini, kan, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi Jatim bagi perbankan sangat besar.

Di samping itu, sejak berdiri pada 1961 Bank Jatim selalu berkontribusi menyokong pertumbuhan ekonomi Jatim. Saya kira sudah tepat jika kami memang memfokuskan diri pada inovasi produk, serta fokus ke UMKM dan koperasi. Tujuannya, agar Bank Jatim yang sudah dekat dengan masyarakat ini lebih berperan lagi untuk perekonomian masyarakat Jatim itu sendiri. Itu harapan kami.

Nah, kini, tantangan sendiri cuma satu: bagaimana menciptakan SDM yang profesional. Itu ada di strategi pertama kami tadi. Para pegawai ini, kan, manusia yang punya pendapat berbeda-beda.

Buat saya, sungguh tantangan besar membuat mereka bisa memiliki satu persepsi, satu visi, satu misi, serta satu tujuan sehingga bisa terbentuk satu teamwork yang benar-benar solid. Tantangan yang lebih besar lagi, bagaimana membuat mereka semua menjadi tenaga profesional.

Reporter: Hadi Sukrianto
Editor: aricatur

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0098 || diagnostic_api_kanan = 0.5273 || diagnostic_web = 0.8550

Close [X]
×