kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.463
  • LQ45935,48   10,30   1.11%
  • SUN97,14 0,42%
  • EMAS606.004 0,84%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Keputusan terbaik dalam karier

Oleh Riko Abdurrahman
Keputusan terbaik dalam karier

Menjadi pimpinan tertinggi di PT Visa Worlwide Indonesia tidak pernah terbayang dalam benak hati saya sebelumnya. Begitu menduduki posisi sekarang, saya jadi teringat apa yang pernah ayah saya katakan.

Saat saya kecil dan sedang berjalan-jalan dengan ayah saya, kami melihat sebuah bangunan bagus dan besar di pinggir jalan.

Ayah berkata bilang ke saya, "Kalau kamu ingin membangun gedung seperti itu, kamu harus menjadi insinyur".

Pesan itu seperti terpatri dalam kepala saya. Apalagi sejak masih duduk di Sekolah Dasar (SD) sampai bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) tiada hari tanpa motivasi menjadi insinyur.

Oleh karena itu, setamat SMA, saya melanjutkan pendidikan ke teknik sipil.

Saya juga menghabiskan waktu lima tahun untuk menyelesaikan pendidikan magister dan master di Amerika. Setelah lulus, saya berkerja di salah satu perusahaan engineering consultant di sana.

Dua tahun bekerja, saya memutuskan pulang ke Indonesia dan bergabung dengan salah satu perusahaan minyak.

Berusia 26 tahun, single, berjiwa petualang membuat saya tidak keberatan untuk ditempatkan di mana saja, sekalipun ditempatkan di Kaimana, Papua Barat.

Setelah proyek di sana selesai, saya dipindahkan ke Aceh. Namun kali ini saya merasa berat. Saya baru menikah waktu itu dan harus meninggalkan istri. Memang bisa pulang setiap akhir pekan, tapi rasanya tetap berat.

Setelah berpikir panjang, sampailah saya pada pertanyaan, apakah bidang engineering merupakan bidang yang saya inginkan? Waktu itu, saya memutuskan bahwa ini bukan jalan saya dan keluar dari dunia itu.

Banyak teman yang kaget dengan keputusan ini. Buat saya tidak masalah. Toh, prinsip saya keluar adalah mundur tiga langkah untuk maju 10 langkah.

Saya ingin mencari bidang baru yang sesuai dengan minat yang saya sukai. Memang tidak mudah untuk memulainya. Di sinilah pentingnya mengasah kembali bekal pengetahuan baru.

Oleh karena itu, saya melanjutkan pendidikan lagi di salah satu lembaga pendidikan manajemen di Jakarta. Kebetulan waktu itu mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan fast moving consumer good (FMCG).

Saya mengambil bidang pemasaran. Ajaib, saat itu juga saya jatuh cinta pada dunia pemasaran. Sejak itulah saya mengembangkan karier di bidang baru ini di sejumlah perusahaan multinasional di berbagai negara.

Sebelum menjabat Presiden Direktur Visa Worldwide Indonesia, saya menduduki posisi tertinggi di salah satu perusahaan di Filipina.

Menurut saya, karier yang saya dapatkan saat ini, merupakan buah dari keputusan yang saya ambil. Yakni, you have to do what you like and like what you do.

Menurut saya, ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil dalam karier saya.

Sebab, saat kita tidak mencintai suatu pekerjaan dipastikan tidak akan meraih kesuksesan di bidang tersebut. Kalau sudah begitu, yang terjadi adalah you will be misarable all the time.

Kini, saya bekerja dalam tim kecil saja, dengan jumlah sekitar 20 orang. Dengan bisnis model yang diterapkan Visa Worldwide, kami selalu melakukan kolaborasi untuk mencapai goals bagi perusahaan tersebut.

Tugas saya sebagai pimpinan adalah mengingatkan kolega di kantor untuk tahu dan memastikan semua orang berjalan bersama menuju satu tujuan sama. Itulah cara meraih keberhasilan.


Close [X]