kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Kurangi laba demi pertahankan pekerja

oleh Mindaugas Trumpaitis - Direktur Utama PT HM Sampoerna Tbk


Kamis, 10 Januari 2019 / 08:00 WIB

Kurangi laba demi pertahankan pekerja

Tahun 2018, kami masih dibayang-bayangi dengan kemungkinan kenaikan cukai rokok. Padahal, dengan kenaikan cukai rokok sekitar 10% itu bisa mempengaruhi penjualan rokok di dalam negeri 1%–3%. Sebenarnya, untuk kenaikan cukai 10%–11% penurunannya masih bisa untuk kami kelola.

Saya tetap dukung apapun kebijakan pemerintah, karena kembali lagi ke falsafah tiga tangan kami tadi, siapa saja yang menjadi bagian penting bagi bisnis ini. Kalau memang untuk penerimaan pajak, Sampoerna pun akan mendukungnya.

Untungnya, di tengah kondisi penjualan rokok yang kian melemah, Sampoerna masih mencetak pertumbuhan pendapatan  pada kuartal III-2018 sebesar Rp 77,5 triliun naik 7,2% dibandingkan dengan periode yang sama 2017 lalu Rp 72,33 triliun.

Kinerja baik kami ini mendukung tujuan pajak cukai negara yang memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan petani cengkih dan tembakau, pekerja industri, serta jutaan pedagang besar dan peritel yang berkecimpung dalam perdagangan produk hasil tembakau.

Kami juga mendukung penyederhanaan atau simplifikasi struktur cukai rokok sesuai PMK 146 tahun 2017 yakni berjumlah layer cukai yang sekarang ada 10 bisa disederhanakan menjadi 5 pada 2021.

Menurut kami, simplifikasi cukai rokok ini bisa menciptakan lingkungan bisnis yang sehat di mana perusahaan kecil akan terlindungi dari serbuan produk perusahaan besar. Di satu sisi, melindungi pekerja SKT khususnya pabrikan yang banyak memproduksi SKT.

Sekarang ini, praktik di lapangan, pabrikan yang produksi di bawah 3 miliar batang rokok per tahun, untuk rokok mesin mendapatkan tarif cukai rendah. Saya rasa ini kurang adil.

Padahal 3 miliar batang ini adalah pasar rokok di Singapura dan menurut saya itu sudah perusahaan besar, jadi tidak seharusnya mendapat tarif cukai yang rendah. Dengan adanya simplifikasi layer ini, harapan kami semua perusahaan besar akan diperlakukan sama.

Saya sangat mendukung  simplifikasi ini dengan harapan bisa mengakomodasi tiga aspek yakni keberlangsungan industri tembakau nasional, kesehatan masyarakat lewat penurunan konsumsi rokok, dan optimalisasi pajak dari industri rokok.

Kalau ternyata simplifikasi layer ini tidak jadi dijalankan, maka akan terjadi proses saling makan. Perusahaan menengah atau kecil bisa memproduksi lebih banyak rokok dengan tarif cukai yang rendah sehingga bisa memakan pasar yang ada di atasnya.

Dengan begitu, apa yang harus saya lakukan? Apakah harus melakukan pengurangan tenaga kerja? Kan tidak mungkin.

Apalagi, kami sudah melakukan usaha untuk berkontribusi besar ke karyawan dan komunitas. Jadi, harapan saya sebenarnya simplifikasi ini bisa tetap dilaksanakan agar industri ini juga berjalan sehat.

Strategi lain yang kami terapkan di tim saat kondisi penjualan dalam negeri melemah, tentu saja dengan melakukan ekspor. Produksi tembakau kami yang tidak bisa diserap sempurna di dalam negeri ada baiknya kami ekspor.

Sekarang ini, Sampoerna sudah mengekspor ke 43 negara tujuan. Terbesarnya adalah Korea dan Australia.

Penjualan tembakau ke luar negeri memang tidak menentu porsinya. Ketika penyerapan tembakau di dalam negeri melemah, kami melakukan ekspor.

Perlu diketahui, Sampoerna menerapkan Sistem Produksi Terpadu (SPT) dengan para pemasok tembakau. Jadi, para petani mendapatkan dukungan teknis, finansial serta sosial dari mulai perencanaan penanaman  tembakau hingga penjualan.

Sekarang ini (2018) luas area untuk tembakau SPT Sampoerna sudah 27.000 hektare dan mempekerjakan 27.500 petani.

Selain mengekspor tembakau, rokok yang kami produksi juga di jual di negara lain. Di beberapa duty free, pasti akan menemukan rokok kami.

Pada usia Sampoerna yang sudah mencapai 105 tahun ini, kami bisa mempertahankan posisi teratas di industri tembakau dengan pangsa pasar 33,1% selama sembilan bulan pertama 2018. Jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2017 angka ini tumbuh 0,1%.

Volume penjualan Sampoerna pun tercatat 101,3 miliar batang dan pembayaran total pajak mencapai Rp 70,3 triliun.

Saya optimis bisa menghadapi segala tantangan bisnis ke depannya. Apalagi, produk kami juga menempati kategori yang memuaskan.

Misalnya Dji Sam Soe berada di urutan ke enam dan Mild berada di urutan ke empat. Dengan kompetisi di dalam hal kualitas rokok dan tembakau, serta memiliki pegawai yang berpengalaman, kami yakin bisa bersaing.

Tahun 2019 , saya masih belum bisa memprediksi berapa pendapatan Sampoerna. Kalau ditanya apakah pemilu berpengaruh? Kalau menurut saya tidak.

Pasalnya, berkaca dari tahun-tahun sebelumnya dan pengalaman pemilu di luar negeri, misalnya di Malaysia, penjualan rokok tidak meningkat saat ada ajang demokrasi.

Justru saya melihat, penjualan masih akan dipengaruhi dengan aturan pemerintah. Aturan inilah yang akan mempengaruhi harga jual kami dan daya beli masyarakat.

Pada 2019  pun kami belum ada rencana melakukan ekspansi. Walaupun, kami sudah anggarkan dana Rp 1 triliun, dana itu hanya untuk melakukan perawatan mesin.    ◆


Reporter: Agung Hidayat, Francisca Bertha Vistika, Intan Nirmala Sari
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0101 || diagnostic_api_kanan = 0.0466 || diagnostic_web = 0.2900

Close [X]
×