kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.870
  • LQ45928,00   -15,43   -1.64%
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS609.032 -0,82%

Membangun tim yang kuat dan kompak

Oleh Wiwik Widayanti
Membangun tim yang kuat dan kompak

Saat saya mulai memimpin PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), hal pertama yang saya lakukan adalah membangun tim yang kuat dan kompak.

Hal ini penting karena tantangan bekerja di perusahaan transportasi seperti kereta api, tidak mudah. Sektor bisnis ini penuh risiko dan menuntut sebuah tanggungjawab besar secara bersama-sama.

Dengan tim yang kuat, maka semua instruksi bisa sampai ke seluruh karyawan hingga ke tingkat paling rendah dengan tepat.

Budaya kerja yang kompak dalam tim ini membuat setiap karyawan yang ada di dalamnya merasa nyaman untuk bekerja.

Mereka akan merasa tiap personil sudah tahu apa yang harus dikerjakan dan saling percaya satu sama lain.

Saya selalu menegaskan kepada tiap karyawan, kenapa saya selalu ingin tim dalam perusahaan ini kuat dan solid.

Hal ini karena bila ada masalah yang sifatnya tak terduga seperti kecelakaan atau bencana alam, maka bisa ditangani dengan cepat dan tepat. Bila tim yang ada tak cukup kuat, maka hal ini bisa memunculkan jatuhnya korban.

Selain membangun tim yang kuat, memimpin perusahaan kereta api harus selalu berbenah dan memperbaiki apa yang ada saat ini.

Pasalnya, perusahaan ini menjual pelayanan dan keselamatan kepada penumpang, sehingga dua aspek inilah yang seharusnya diterima masyarakat sebagai penumpang setia kereta api.

Makanya, saya selalu siap siaga bila perusahaan harus menyusun rencana pengembangan armada demi perbaikan pelayanan kepada masyarakat, mulai dari kapasitas angkut hingga kualitas pelayanan kepada masyarakat itu sendiri.

Pengguna kereta api yang terus bertambah membuat kapasitas angkut pasti harus selalu ditambah.

Selain itu, meningkatnya jumlah penumpang dipastikan akan membuat jumlah orang yang dilayani semakin banyak, padahal personil kami umumnya tidak bertambah. Alhasil, di sinilah kami harus selalu berinovasi.

Bila semua hal ini dilaksanakan, maka perusahaan ini akan selalu bisa membayar kepercayaan masyarakat yang menjatuhkan pilihannya untuk naik Kereta Rel Listrik (KRL) ketimbang transportasi lain.

Selain itu, saya juga selalu memperhatikan aspek keselamatan. Aspek keselamatan memang menjadi tantangan bagi saya sebagai pucuk pimpinan perusahaan kereta api.

Apalagi, saya pernah punya pengalaman buruk saat menjadi Kepala Daerah Operasional di Surabaya beberapa tahun lalu, karena ada kecelakaan di pintu perlintasan kereta api yang berujung jatuhnya korban.

Akhirnya, saya sebagai pimpinan menutup beberapa pintu perlintasan kereta api sebidang di wilayah tersebut, yang memang rawan kecelakaan, terutama di area lalulintas yang padat.

Nah, di sinilah peran sebagai pimpinan bukan hanya di internal perusahaan, tapi juga bagi eksternal perusahaan yakni warga sekitar yang merasa penutupan ini tak perlu dilakukan.

Pasalnya, sejumlah titik perlintasan dinilai sebagai akses jalan satu-satunya. Namun, risiko tinggi terkait keselamatan tak bisa ditoleransi sehingga keputusan ini tetap harus dilaksanakan.

Pengalaman ini mengajarkan saya untuk bisa menerapkan apa yang akhirnya saya terapkan sebagai pimpinan perusahaan saat ini.

Saya ingin dengan tim kuat yang sedang dibangun ini, semua unsur bisa terpenuhi, baik pelayanan, kepuasan penumpang, hingga keselamatan bagi semua pihak.