kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Membuat bisnis keluarga profesional

oleh Arief Goenadibrata - CEO PT Madusari Indah Tbk


Senin, 26 November 2018 / 18:06 WIB

Membuat bisnis keluarga profesional
ILUSTRASI. Arief Goenadibrata, CEO PT. Madusari Murni Indah Tbk

Proses ini akan menimbulkan limbah baru yang namanya vinasse. Jumlahnya bisa mencapai 1,2 juta liter sehari. Ini kami proses menjadi pupuk. Sebagian besar pupuk itu kami distribusikan melalui Petrokimia kepada para petani tebu, sehingga mereka mendapat sebagai subsidi. Sisanya ada yang diekspor ke Selandia Baru.

Tak hanya menghasilkan pupuk, hawa panas yang tercipta dari proses pembakaran tadi kami manfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik. Listriknya kemudian digunakan untuk konsumsi pabrik sehingga kami mengurangi beban membayar listrik kepada PLN.

Sekarang pembangkit listrik dalam tahap pemasangan. Kalau ini sukses dilakukan di pabrik pertama, akan kami terapkan di pabrik kedua. Dengan cara ini, kami bisa mendapatkan efisiensi pada 2019 hingga bisa meningkatkan profit sekitar 4%.

Untuk 2018 kami perkirakan pendapatan perusahaan tumbuh 20% dibanding 2017. Perolehan laba juga lebih tinggi karena per September laba kami sudah sama dengan 2017.

Pekerjaan rumah

Dalam upaya menciptakan profesionalisme di perusahaan, sampai sekarang saya masih terus belajar. Untuk membawa perusahaan keluarga jadi perusahaan profesional, pola berpikir pengelolanya harus berubah. Ada perbedaan cara menangani perusahaan  profesional dan perusahaan keluarga.

Founder kami, Pak Iswan Rustanto, sudah meninggal dunia. Penerusnya generasi kedua sudah berusia 70 tahunan. Kini sedang proses alih generasi  ke generasi ketiga.

Nah, profesional masuk ke perusahaan untuk menjembatani masa transisi menuju generasi ketiga ini. Kami akan menata dan menyiapkan, sehingga generasi ketiga tinggal melanjutkan saja.

Saat ini saya sedang proses menciptakan atmosfer kerja yang kompetitif. Ini grup pertama yang saya jalankan masih sangat sosialis, sama rata, sama rasa. Belum ada kompetisi.

Saya harus melakukan ini dengan sangat halus. Mereka pernah dikompetisikan, tetapi bereaksi tidak mau. Waktu itu ada pelatihan di Lampung.

Saya coba membagi 40 orang dalam 4 kelompok untuk bermain gim. Semua peserta harus memberi uang Rp 10.000. Kemudian ada satu pemenang, dan mereka mendapatkan hadiah itu.

Namun besok paginya saat sarapan, ada satu orang yang mengembalikan uang itu. Saya pikir ini fenomena baru. Yang dibalikin juga menerima saja. Bahkan uang saya juga dikembalikan.

Setelah ini, saya akan mencoba lagi membangun kompetisi, tapi tak berhubungan dengan dengan kenaikan gaji atau bonus. Kalau berhasil, baru dilanjutkan dengan sistem penilaian karyawan. Ini pekerjaan rumah saya di tahun depan.                ◆


Reporter: RR Putri Werdiningsih
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0003 || diagnostic_api_kanan = 0.0660 || diagnostic_web = 0.2882

Close [X]
×