kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.893
  • LQ451.028,25   -6,24   -0.60%
  • SUN102,00 -0,22%
  • EMAS614.076 -0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Mengubah budaya kerja

Oleh Yoory Pinontoan
Mengubah budaya kerja

Saya ditunjuk untuk memegang jabatan sebagai Direktur Utama PD Pembangunan Sarana Jaya pada tahun 2016. Hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah melakukan transformasi dan budaya kerja di perusahaan ini.

Sebagai entitas usaha milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perusahaan ini memiliki potensi bisnis yang besar apabila dikelola dengan baik. Oleh karena itu, saya melakukan dua transformasi dasar yang terkait dengan bisnis perusahaan ini.

Pertama, memisahkan unit perencanaan, pengadaan, dan pemasaran yang selama ini menjadi satu. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa perusahaan ini bekerja dengan sungguh-sungguh.

Kedua, perusahaan harus mengambil posisi mayoritas di setiap kerjasama dengan pihak lain. Hal ini juga sama-sama pentingnya. Sebab, dengan menjadi mayoritas berarti pengaruh dan kontribusi perusahaan akan maksimal.

Selain transformasi dasar dari sisi bisnis, transformasi Sumber Daya Manusia (SDM) juga mutlak. Awalnya, saya menemukan fakta bahwa perusahaan ini bergerak dalam bidang teknis. Namun yang saya hadapi, justru perusahaan ini kekurangan tenaga di bidang teknis.

Kelemahan tersebut dapat menghambat proses transformasi bisnis perusahaan ini. Namun, saya tak ingin larut dalam kekecewaan.

Sembari transformasi ini berjalan, saya coba mengubah budaya kerja para karyawan agar bekerja dan berpikir dinamis.

Dalam era modern seperti saat ini, karyawan harus memiliki sikap yang dinamis dan tak ingin selalu berada dalam zona nyaman.

Pasalnya, dengan berpikir dinamis, maka kompetisi sehat akan muncul, kreativitas, dan inovasi akan terlihat, dan pada akhirnya perusahaan yang akan diuntungkan.

Sebelum mengarah ke sikap dinamis ini, perjuangan yang dilakukan adalah mengubah budaya kerja karyawan lama. Sedangkan bagi karyawan baru hanya tinggal mengajarkan dan memberi contoh konkretnya.

Hal pertama untuk mengubah budaya kerja bisa dimulai dari tindakan yang remeh. Misalnya, dengan secara rutin berkeliling kantor mengunjungi para karyawan. Ya, sekadar mengobrol atau berinteraksi dengan karyawan.

Lewat cara ini, karyawan akan merasa bahwa pimpinan perusahaan peduli dan punya perhatian kepada karyawan.

Upaya keliling ke karyawan ini jangan sampai diartikan sebagai sebuah inspeksi mendadak (sidak) yang terkesan untuk mengintimidasi karyawan, melainkan upaya untuk menghilangkan jarak antara pimpinan dan karyawan.

Saya berkeyakinan budaya kerja akan berpengaruh pada hasil yang diraih karyawan. Untuk itu, saya selalu berupaya untuk selalu mendengar apa yang dikatakan karyawan dan memberi solusi dari tiap permasalahan yang dihadapi.

Tak hanya soal kinerja, perubahan budaya kerja yang saya lakukan sekaligus upaya untuk menjaga loyalitas karyawan sehingga tak mudah pindah kerja karena alasan suasan kerja yang tak nyaman.

Apalagi, jika loyalitas ini tumbuh dari karyawan potensial yang kelak bisa jadi pemimpin perusahaan ini, maka perusahaan akan sangat diuntungkan.

Belakangan ini, saya juga melihat bahwa tanpa diajarkan, karyawan muda atau kaum milenial sepertinya tengah menyadari budaya kerja yang baik dalam sebuah perusahaan.

Hal inilah yang membuat saya senang merekrut para karyawan muda. Meski minim pengalaman, tapi semangat kerja dan kreativitas mereka tak perlu diragukan lagi.


Close [X]