kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45774,37   -28,65   -3.57%
  • EMAS1.028.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.06%
  • RD.CAMPURAN -0.05%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.02%

Mengubah kultur perusahaan saat kolaps


Selasa, 18 Juni 2019 / 14:56 WIB
Mengubah kultur perusahaan saat kolaps

Reporter: Fransiska Firlana | Editor: Tri Adi

 
Sebelum bergabung dengan PT Cipta Krida Bahari (CKB Logistics Group), lelaki dengan perawakan tinggi semampai ini bekerja di perusahaan multinasional Unilever. Iman Sjafei berkiprah di Unilever sekitar 16 tahun. Dulu, saya sempat kepikiran, jangan-jangan saya akan pensiun di Unilever, ujar Direktur Utama CKB Logistics yang lahir 14 Juli 1971 ini.

Namun nasib berkata lain. Kala itu, sekitar tahun 2010, bapak lima anak ini mendapatkan tugas di Singapura. Saat itu, jabatannya adalah Direktur Regional Process Excellence Unilever Asia Pte.Ltd. "Dua tahun saya tinggal di Singapura, justru ketika itulah muncul keinginan untuk bekerja di perusahaan lokal," ujar lelaki berkacamata ini.

Iman mengaku, keinginannya untuk bekerja di perusahaan nasional muncul sangat kuat saat itu. Dia ingin punya kontribusi pada negaranya. Sebab, setelah lulus dari bangku sekolah, dia langsung bekerja di perusahaan multinasional.

Saat itu, ia merasa kontribusinya pada negara tidak banyak. "Sebab kita tahu, kalau di perusahaan multinasional, sudah pasti dividen perusahaan akan kembali ke induk mereka alias terbang ke negara lain," kata lelaki yang meraih gelar Bachelor of Science in Industrial and Operations Engineering dari University of Michigan, Rackham Graduate School, Michigan, Amerika Serikat (1994).

Setelah dua tahun di Singapura, Iman bertekad pulang ke Indonesia dan bekerja di perusahaan nasional. Hanya, saat itu, dia belum terpikirkan untuk bergabung di perusahaan nasional mana. "Ternyata keinginan dan tekad saya ini menemukan titik terang. Tiba-tiba saya ditelepon teman lama yang notabene adalah Direktur Utama CKB Logistics saat itu," kenangnya.

Tapi, percakapan melalui telepon itu bukan menawarkan pekerjaan. Tetapi, sang teman menginginkan Iman untuk mencarikan orang yang cocok mengisi kursi di divisi corporate strategic CKB Logistics.

Namun rupanya, orang yang disodorkan Iman tidak ada yang cocok. "Eh, temen saya malah bilang, kenapa engga kamu saja yang coba mendaftar," ujar Iman menirukan.

Iman pun yakin untuk mengajukan diri di CKB. Pertimbangan, sang teman sudah bekerja di CKB selama sembilan tahun. Hal itu menunjukkan bukti integritas perusahaan itu baik. Di sisi lain, ada nama Grup Triputra yang menaunginya. Iman pun yakin untuk interview dan akhirnya lolos. "Setelah saya lolos, beberapa bulan kemudian, teman saya yang saat itu menjadi direktur utama CKB malah cabut. Dia dipindahkan ke grup," kata dia tertawa.

Iman mengungkapkan, dirinya mendapat ilmu tentang logistik ketika masih bekerja di Unilever. Kebetulan, selama puluhan tahun bekerja di Unilever, dia sempat banyak mengurusi bidang accounting, customer service, proyek teknologi informasi, dan juga logistik.

Karena itu, Iman mengaku belajar banyak dari Unilever soal bisnis. Nah, kalau teman-teman di CKB banyak yang memang berasal dari perusahaan logistik multinasional. "Saat itu, saya juga mengerti logistik, tapi dari sisi konsumen," ujarnya.

Di luar kesibukan mengurus perusahaan. Imam juga memiliki hobi traveling. Ia kerap bersama keluarga jalan-jalan. Namun, setahun terakhir, ia memilih menahan hobinya itu. Sebab, putrinya yang kelima baru berusia setahun dan belum nyaman diajak jalan-jalan. "Sekarang, traveling bareng anak itu harus ada nuansa anime-animenya, mengikuti selera anak-anak," ujar Iman yang kini memiliki lima putri itu.♦

Fransiska Firlana



TERBARU

[X]
×