kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.595
  • SUN93,03 -0,06%
  • EMAS610.041 0,33%
EXECUTIVE / KOPI PAGI

Menuju pengusaha level II

oleh Dato' Sri Tahir - Pendiri Mayapada Group

Senin, 18 Juni 2012 / 11:44 WIB

Menuju pengusaha level II



Saya mengibaratkan pengusaha itu sebagai pendaki gunung. Begitu satu puncak tercapai, saya tertantang mencapai puncak yang lebih tinggi lagi. Ini dunia yang dinamis.

Di antara sekian banyak "pendakian", dua fase terpenting dihadapi oleh pebisnis. 

Pertama, saat awal membangun bisnis. Orientasi fase ini lebih terkonsentrasi pada pemenuhan kebutuhan hidup dan materi. Tarafnya memenuhi tuntutan kebutuhan. Wajar saja karena kita memiliki tanggung jawab menghidupi keluarga serta kewajiban membesarkan anak-anak.

Ketika usaha sudah berkembang dan besar, timbul pemikiran lebih lanjut. Apakah pencapaian seorang pebisnis hanya seperti ini? Apa sesungguhnya makna hidup seorang pengusaha? Apa lagi yang bisa saya kerjakan?

Berbagai pertanyaan tersebut akan menemukan jawabannya pada fase kedua pendakian pengusaha, mencapai makna sebagai pengusaha. Di tahap ini kita mencari jawaban-jawaban lebih filosofis, bukan sekadar materi atau pencapaian karier bisnis.

Pengusaha perlu memperkaya portofolio, bukan sekadar mencari uang tetap agar karier hidup ini lebih berisi.

Materi bukan lagi jawabannya. Sebab, sekaya apa pun orang, dia hanya perlu makan tiga kali sehari. Kita hanya perlu satu ranjang untuk tidur walau punya banyak rumah. Nyatanya pula, kemana-mana hanya menumpang satu mobil walau garasi penuh dengan mobil.

Tidak diketahui secara persis (exactly) kapan peralihan dua fase tersebut. Hanya saja seringkali kegagalan menjadi momentumnya. Dari kegagalan itulah kita bisa belajar dan lebih waspada.

Tahun 1987-1988, sebagai contoh, bisnis saya bangkrut. Benar-benar bangkrut. Sementara tagihan utang dari bank menumpuk. Tiga tahun saya menghadapi kesulitan itu. Susah benar waktu itu.

Namun saya melihat ini sebagai titik balik. Dengan istilah lain, ini fase pengusaha level kedua.

Pengalaman pahit ini mengasah kewaspadaan. Early warning system lebih peka dan terus-menerus mengingatkan agar mempersiapkan diri lebih baik. Bukan sekadar business sense. Tujuan hidup, memaknai hidup pun seturut berubah.

Orientasi pada fase kedua ini berbeda dengan fase tahap pertama. Berbisnis tak lagi dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan materi. Ada dorongan lebih besar lagi ketimbang orientasi material. Yakni, keinginan menjadi manusia yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.

Dalam praktik bisnis, kesadaran ini membawa perubahan besar pada cara pandang berbisnis. Kita bisa membedakan mana bisnis yang sekadar deal maker, dan mana yang berhaluan platform. Sama-sama menguntungkan, namun berbeda nilainya.

Deal maker berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Saat harga tanah di Tangerang sedang mahal dan permintaan banyak, seorang deal maker memborongnya. Asal menguntungkan, dia mau menjual kepada pembeli yang mau menawarkan harga tertinggi. Tidak ada nilai tambah bagi orang lain.

Tidak demikian dengan haluan platform. Semua bisnis dihitung dengan cermat. Prospek dan masa depannya seperti apa, kelangsungan  bisnis, termasuk pula value bagi masyarakat. Ini yang membedakan dengan seorang deal maker.

Saya pikir, pada gilirannya menjadi pengusaha bukan tujuan hidup. Bisnis hanya cara dan proses untuk mencapai nilai tambah.

Value itu berupa kemanfaatan bagi banyak orang. Ini memberikan kepuasan tersendiri.

Reporter: Dato' Sri Tahir
Editor: aricatur

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0274 || diagnostic_api_kanan = 0.0526 || diagnostic_web = 0.6803

Close [X]
×