kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45670,77   -28,01   -4.01%
  • EMAS926.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%
EXECUTIVE / CEO's TALK

Mewujudkan wong cilik melu gemuyu

oleh Usman Perdanakusuma - Dirut Perikanan Nusantara:


Senin, 21 Maret 2016 / 13:40 WIB
Mewujudkan wong cilik melu gemuyu

Reporter: Usman Perdanakusuma | Editor: mesti.sinaga

Di tangan Direktur Utama yang baru Usman Perdanakusuma, PT Perikanan Nusantara bertransformasi menjadi “Bulog” perikanan. Perusahaan perikanan pelat merah ini bakal fokus mengawal ketersediaan pasokan ikan nasional.

Bagaimana caranya? Usman membeberkan rencananya kepada wartawan KONTAN Agung Jatmiko, Kamis (10/3) lalu.

Saya baru lima bulan menjabat sebagai direktur utama Perikanan Nusantara, tepatnya mulai Oktober 2015. Saya selalu berpikir, apa yang saya kerjakan hendaknya mampu memberikan kontribusi kepada orang di sekitar, lebih luas tentu bagi negara.

Makanya, saya bersedia memimpin badan usaha milik negara (BUMN) ini lantaran ingin memberi kontribusi yang nyata pada negara lewat pengembangan sektor perikanan. Yang pada akhirnya berujung kepada kesejahteraan nelayan.

Ini sekaligus menjadi tantangan bagi saya, sebab Perikanan Nusantara adalah perusahaan pelat merah yang seharusnya memiliki peran strategis bagi pengembangan ekonomi Indonesia khususnya di sektor perikanan.

Sebelum saya masuk, bisnis inti Perikanan Nusantara yang merupakan hasil merger lima BUMN perikanan terdiri dari penangkapan, pengumpulan, pengolahan, dan perdagangan ikan, jasa perawatan dan perbaikan kapal, cold storage, serta jasa lain.

Tahun lalu, perusahaan yang berdiri tahun 1998 silam ini sudah menghasilkan laba sekitar Rp 3 miliar. Namun, saya merasa Perikanan Nusantara sebetulnya memiliki potensi yang sangat besar, dengan keuntungan yang seharusnya jauh di atas Rp 3 miliar.

Mengapa? Karena sektor perikanan kita sebenarnya sangat-sangat potensial untuk digarap. Ikan begitu melimpah di perairan negeri ini, sampai-sampai negara lain datang untuk mencuri ikan kita.

Nah, begitu diangkat sebagai dirut, saya melakukan pemetaan terlebih dahulu mengenai permasalahan serta evaluasi bisnis inti Perikanan Nusantara. Hasil pemetaan menunjukkan, perusahaan ini tidak bisa lagi seperti dulu, mempunyai lini usaha yang sangat banyak.

Saya menyadari, agar mampu menjadi agen pembangunan, maka usahanya pun harus fokus. Negara ini, kan, memiliki pantai terpanjang kedua di dunia. Kalau perhatian BUMN yang menggarap sektor perikanan terpecah ke banyak lini, tentu tidak optimal.

Selama ini, rasanya Perikanan Nusantara tidak berperan secara konkret terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, saya berusaha merumuskan rencana kerja yang konkret dan mampu mewujudkan peran strategis perusahaan bagi Indonesia.

Setelah melakukan pemetaan dan berdiskusi dengan teman-teman di Perikanan Nusantara, kesimpulannya adalah kami harus berubah, tidak bisa tidak.

Momentum moratorium perizinan kapal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak boleh dilewatkan. Ini harus menjadi kesempatan kami untuk lebih menggarap sektor perikanan.

Siapa lagi yang masuk kalau bukan kami selaku BUMN sektor perikanan?

Memang, tahun lalu Perikanan Nusantara sudah mendapatkan laba Rp 3 miliar, tapi pencapaian ini tergolong kecil. Wajar saja kalau memperoleh laba kecil, lini bisnis terlampau banyak namun bukan betul-betul keahlian kami.

Contoh, lini pengolahan ikan yang memproduksi olahan ikan, seperti tepung atau nugget. Ini, kan, sebenarnya bukan ranah kami.

Makanya, saya ingin Perikanan Nusantara lebih fokus dengan lini usaha yang benar-benar konkret. Tak hanya menunjang kinerja perusahaan, juga mensejahterakan nelayan.

Info saja, Menteri BUMN sebelumnya Dahlan Iskan menyebut Perikanan Nusantara sebagai mayat hidup. Utangnya menumpuk, sampai lebih Rp 50 miliar. Tahun 2006 perusahaan ini digabung dengan empat BUMN perikanan lain dengan kondisi juga sekarat.

Stok ikan nasional

Saya memutuskan untuk fokus pada satu arah, yaitu mengawal ketersediaan pasokan ikan nasional.

Untungnya, semua cabang Perikanan Nusantara ada di wilayah-wilayah yang sangat strategis, di sentra-sentra ikan. Contohnya, di Bitung, Ambon, dan Sorong. Ini, kan, semua wilayah yang strategis.

Nanti akan saya optimalkan dengan melakukan revitalisasi cabang secara maksimal, sehingga mampu mengantar Perikanan Nusantara jadi stabilisator stok ikan Indonesia.

Bicara soal mengamankan stok ikan nasional, tentu keberadaan gudang pendingin atawa cold storage harus signifikan dan memadai.

Saat ini kami memiliki cold storage dengan kapasitas 100 ton hingga 200 ton. Ke depan, kami bakal memperbesar kapasitasnya hingga mencapai 20.000 ton di masing-masing kantor cabang.

Susah memang mewujudkannya. Tapi, kalau tidak berubah tentu kami akan selalu tertinggal. Kompetitor kami punya kemampuan yang jauh lebih hebat. Lalu, apa lantas kami berdiam diri saja dan meneruskan langkah yang selama ini ditempuh?

Kalau saya tidak mau seperti itu. Perikanan Nusantara harus berubah menjadi lebih hebat. Dan, jika kami berkomitmen untuk mengawal stok ikan nasional, ya, gudang pendingin sebagai sarana vital harus kami tingkatkan kapasitasnya.

Mengapa kami main di stok ikan nasional? Pertama, ada moratorium yang mencegah negara-negara asing masuk ke perairan Indonesia. Kekosongan itu harus diisi oleh BUMN.

Kedua, kurang optimalnya unit pengolahan ikan (UPI) dalam menangani kebutuhan ikan nasional. Jumlah UPI saat ini 700.000 unit dengan kebutuhan bahan baku mencapai empat juta ton. Yang bisa oleh 700.000 unit ini hanya dua juta ton. Makanya, kami masuk ke stok ikan nasional untuk memasok bahan baku ratusan ribu UPI itu.

Nanti fokus Perikanan Nusantara ada pada pengumpulan ikan dan cold storage. Jadi, tidak ada lagi lini usaha penangkapan ikan. Kami akan merangkul nelayan supaya hasil tangkapan mereka dijual ke Perikanan Nusantara.

Ini juga sejalan dengan program KKP yang akan memberikan bantuan 3.500 kapal kepada nelayan. Alhasil, kami akan menjadi Bulog-nya sektor perikanan. Nelayan dapat bantuan kapal kemudian hasilnya kami yang beli.

Untuk merangkul nelayan, kami bisa memberikan subsidi solar serta bekerjasama dengan koperasi untuk penyediaan keperluan-keperluan di laut. Kemudian, kami juga akan memperbesar pabrik produksi es balok untuk dijual kepada nelayan.

Jadi kelak, kami menyediakan solar bersubsidi, natura atau keperluan-keperluan saat melaut, serta balok es.

Kami juga menggandeng perbankan untuk memperjuangkan nelayan supaya bisa mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kredit ini bisa diberikan kepada nelayan yang sudah mendapatkan rekomendasi dari kami.

Langkah ini juga dimaksudkan untuk memotong rantai rente yang melilit nelayan. Ke depan, kami membeli langsung dari nelayan agar mereka tidak terjebak dengan tengkulak.

Untuk modal usaha, akhir tahun lalu kami mendapatkan penanaman modal negara (PMN) sebesar Rp 200 miliar. Sebanyak Rp 36 miliar akan digunakan untuk penyerapan atau pembelian ikan.

Lalu, Rp 163 miliar dipakai mengembangkan infrastruktur seperti gudang pendingin dan infrastruktur lain-lain. Target tahun ini, kami bisa menyerap 30.000 ton ikan dari nelayan. Selama ini, kami hanya menyerap 9.000 ton, itu masih kecil sekali.

Lini lain yang kami tetap pertahankan adalah pengolahan ikan. Tapi, lini pengolahan ini tidak sama dengan lini pengolahan yang dulu. Pengolahan yang kami lakukan saat ini lebih ke pemotongan, bukan pemrosesan.

Ada klien yang mensyaratkan pembelian daging ikan yang sudah dipotong seperti fillet. Nah, itu yang kami lakukan. Kalau membuat bakso ikan, tepung, dan nugget sudah tidak kami lakukan lagi.

Saya menargetkan tahun ini laba Perikanan Nusantara bisa menjadi Rp 20 miliar atau naik enam kali lipat lebih. Angka ini bukan suatu hal yang mustahil dicapai. Namun, profit bukanlah yang utama, meski kedudukannya sangat penting.

Selain profit, kami juga hendak menciptakan keberpihakan kepada nelayan sehingga tak ada lagi yang namanya ketimpangan dalam hidup mereka.

Punya nasionalisme

Dalam memimpin, saya selalu menekankan kepada anak buah untuk memiliki nasionalisme dalam dirinya. Sebab, kami bekerja di perusahaan milik negara, dengan fokus sebagai agen pembangunan.

Oleh sebab itu, saya menginginkan agar segenap karyawan Perikanan Nusantara memiliki tiga hal: nasionalisme, integritas, dan profesionalisme. Nasionalisme jelas diperlukan karena kami adalah BUMN, integritas jadi penting karena percuma orang ahli kalau tak punya integritas.

Dan yang terakhir adalah profesionalisme. Untuk yang satu ini, memang vital dan diperlukan untuk pengembangan bisnis. Profesionalisme meliputi keahlian dan kreatif.

Tapi, kalau karyawan memiliki kemampuan bagus saja tanpa integritas, tentu tidak akan ada artinya, malah tidak berguna. Kalau punya integritas dan profesional tanpa nasionalisme, kami perusahaan yang hanya mementingkan profit dan tidak peduli akan nelayan.

Cuma, kalau hanya punya nasionalisme dan integritas tapi tidak memiliki kemampuan, percuma juga. Sebab, kalau tidak punya kemampuan, perusahaan pun tidak akan jalan. Makanya, saya mensyaratkan tiga hal ini.

Saya juga tipikal pemimpin yang sangat percaya dengan kemampuan bawahan. Namun, sebelum karyawan berjalan, tentu sudah menjadi kewajiban saya untuk merumuskan langkah secara jelas.

Kepercayaan timbul karena arahan sudah jelas. Karena itu, saya menetapkan target-target serta arahan-arahan dan kemudian melakukan evaluasi mingguan.

Intinya, saya menanamkan perasaan bangga dan nasionalisme lebih banyak kepada karyawan. Makanya, moto Perikanan Nusantara: Bangga Membantu Nelayan.

Ini bukan main-main, saya ingin agar semua karyawan mewujudkan istilah wong cilik melu gemuyu atau rakyat kecil ikut tersenyum. Saya minta kepada semua cabang hendaknya terbuka untuk para nelayan.

Jadi, markas nelayan, lah, tempat mereka berdiskusi, mengungkapkan keluhan juga ide. Tak lupa saya juga akan turun tangan untuk memantau kondisi di lapangan, memantau langsung sekaligus bertemu dengan nelayan. 

Sumber: Tabloid KONTAN edisi 14 Maret-20 Maret 2016




TERBARU

Close [X]
×