kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • LQ45904,78   -7,59   -0.83%
  • EMAS590.870 -0,68%

Pengalaman Menjadi Karyawan

Oleh Dicky Sumarsono
Pengalaman Menjadi Karyawan

Saya memulai usaha perhotelan dari nol. Bahkan, saya tak pernah tahu tentang hotel hingga saya duduk di bangku SMA dan melihat langsung bentuk hotel.

Merintis bisnis hotel tak hanya butuh modal uang, melainkan juga ilmu dan pengalaman. Porsi ilmu dan pengalaman ini barangkali yang paling menetukan.

Makanya, saya memberanikan diri memulai impian baru, yaitu berkecimpung di perhotelan dengan bekerja sebagai pramusaji.

Kata orang, posisi menentukan prestasi dan itu memang benar. Tapi, prestasi bisa diraih meski posisi kita ada dibawah. Prestasi tersebut setidaknya berguna bagi saya pribadi.

Menjadi pramusaji memang bukan keinginan saya, tapi saya percaya bahwa dengan melangkahkan kaki sebagai pramusaji, kelak saya akan menemukan posisi yang lebih baik.

Satu hal yang penting dan berharga di sini adalah pengalaman, sebuah ilmu yang tak bisa dibeli melainkan mesti dijalani dan mengajarkan banyak hal ketimbang teori.

Bekal pengalaman ini yang coba saya perbanyak dengan banyak berpindah tempat kerja hingga saya merasa siap untuk mengembangkan bisnis hotel saya sendiri.

Pengalaman sebagai karyawan hotel juga mengajarkan saya bukan hanya sukses mengelola bisnis tapi juga sukses mengelola Sumber Daya Manusia (SDM).

Mengelola SDM perhotelan, yang mencakup hotel, restoran, dan katering tak seperti mengelola SDM untuk sektor bisnis lainnya.

Menurut saya, pemilik hotel yang bijak adalah yang tidak membebankan karyawannya dengan target yang terlalu tinggi.

Pemilik hotel harus memberikan kepercayaan dan keleluasaan terhadap para karyawannya untuk mengembangkan hotel dengan ide yang mereka miliki.

Kendati memberi kuasa, tak berarti pemilik hotel melepasnya tanpa pengawasan. Pemilik hotel memonitor tiap langkah karyawan lewat kinerja hotel tersebut.

Langkah tersebut sudah saya lakukan sebagai pemilik hotel di Azana Hotels & Resort Management.

Saya mempercayai karyawan secara penuh. Sebagai imbal baliknya adalah setiap bulan saya memberikan program pengembangan bagi karyawan.

Pengembangan yang saya lakukan adalah memberikan tolok ukur tentang kinerja hotel yang baik seperti apa. Dengan demikian, para karyawan terpacu mencapai kinerja yang menjadi acuan dalam program pengembangan yang diberikan.

Selain itu, bisnis hotel di era modern saat ini sangat dinamis. Pola kerja karyawan juga kerap berubah menyesuaikan perkembangan zaman dan mengikuti keinginan dari para tamu hotel.

Dinamisasi bisnis hotel telah disadari oleh karyawan saya. Bahkan, terkadang muncul berbagai ide brilian dari para karyawan yang sebagian besar adalah generasi muda.

Keberadaan karyawan inilah yang membuat saya selalu bersemangat bila berbicara soal pengembangan bisnis hotel. Pasalnya, talenta hebat di bidang perhotelan bisa saya rasakan dan mengingatkan kembali memori saya di masa lalu.

Saya mengakui bahwa hotel yang dikelola Azana saat ini banyak menyerap karyawan ketimbang beralih ke teknologi untuk menggantikan peran karyawan seperti yang dilakukan hotel lainnya.

Tapi hal ini tak menjadi masalah bagi saya asalkan karyawan bisa selalu bekerja dengan baik dan bisa berkembang bersama dengan perkembangan bisnis hotel tersebut.