kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.619
  • LQ45904,78   -7,59   -0.83%
  • EMAS590.870 -0,68%

Proyek air minum paling prospektif

Oleh Arisudono Soerono
Proyek air minum paling prospektif

Baru beroperasi efektif selama lima tahun tak lantas membuat Indonesia Infrastructure Finance (IIF) berjalan lamban. Lembaga pembiayaan ini dipercaya dalam pendanaan beberapa proyek strategis.

Kepada jurnalis KONTAN Ferika Lukmana, Presiden Direktur IIF Arisudono Soerono memaparkan sepak terjang IIF.

Bicara mengenai Indonesia Infrastructure Finance (IIF) agaknya harus dimulai dari pembentukannya.

Mulai dari tahun 2010, sebelumnya pemerintah waktu itu merencanakan dan menyadari perlunya lembaga pembiayaan infrastruktur sehingga terbentuk PT Sarana Multi Infrastruktur atau SMI dan IIF. SMI dibentuk untuk membiayai infrastruktur pemerintah, sementara IIF lebih menitikberatkan pembiayaan ke swasta.

Walaupun dibentuk tahun 2010, IIF baru beroperasi secara efektif pada tahun 2012 atau dua tahun setelahnya.

Masa dua tahun itu kami pergunakan untuk memperkuat sinergi di dalam, mempelajari peraturan, serta menyiapkan mekanisme untuk mengikuti standar yang ditetapkan oleh Asian Development Bank (ADB).

Nah, antara SMI dan IIF tentu ada perbedaan, meski kami sama-sama lembaga pembiayaan infrastruktur.

Pembeda utamanya adalah, jika SMI lebih difokuskan untuk proyek-proyek infrastruktur pemerintah, IIF lebih menitikberatkan pada sektor swasta. Lebih dari 75% klien kami adalah perusahaan non-BUMN.

SMI memang memiliki saham di IIF. Namun, di IIF itu tidak ada pemegang saham mayoritas. SMI sebagai pemegang saham terbesar hanya 30%, diikuti dengan ADB dan International Finance Corporation (IFC) masing-masing 19,99%.

Kemudian diikuti DEG (Jerman) dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) dengan porsi 15,12% dan 14,9%.

Selama berdiri, tentu kami sudah menangani banyak proyek. Salah satu yang boleh dikata membanggakan adalah kami turut serta menjadi salah satu dari empat institusi keuangan domestik yang membiayai proyek Tangguh LNG Plan di Papua.

Kami bangga karena proyek ini luar biasa besar, dan kami salah satu yang terlibat bersama dengan PT Bank Mandiri, PT Bank Negara Indonesia dan PT Bank Rakyat Indonesia. Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap konstruksi.

Mengapa kami bisa dipilih? Karena mereka tahu cara kerja kami seperti apa. Cara kerja kami merupakan gabungan dari IFC dan ADB.

Hal tersebut kami pelajari bagaimana kedua lembaga ini melihat suatu permasalahan, seperti apa pendekatan mereka, dan bagaimana pemecahan yang mereka lakukan.

Kedua budaya lembaga internasional ini kemudian kami ramu menjadi budaya baru, yakni budaya IIF.

Proyek lain yang menjadi portofolio kebanggaan IIF adalah proyek sumber air minum yang sudah tertunda selama 43 tahun, sejak 1975.

Tahun 2016 akhir, proyek ini bisa financial close dan sekarang sudah konstruksi. Pada pertengahan atau akhir tahun ini ditargetkan selesai.

Ini proyek yang luar biasa kompleks dan kami yang masuk dalam konsorsium pembiayaan itu bangga dengan pencapaian proyek tersebut.