kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
EXECUTIVE / CEO's TALK

SDM dan strategi bisnis harus putar haluan

oleh Syahril Japarin - Direktur Utama PT Pelni

Senin, 11 November 2013 / 08:33 WIB

SDM dan strategi bisnis harus putar haluan

Harga tiket pesawat terbang yang semakin murah menjadi salah satu ancaman bagi pelaku bisnis transportasi laut. Tiap tahun penumpang kapal berkurang hingga 1 juta orang. Sebagai pemain utama di bisnis ini, PT Pelni tentu paling terpukul. Kepada wartawan KONTAN, Fransiska Firlana dan Carolus Agus, Direktur Utama Pelni Syahril Japarin memaparkan strategi bisnisnya, Kamis (7/11) lalu.

Saya bergabung dengan PT Pelni pada Mei 2013. Pelni merupakan perusahaan keempat yang saya pimpin. Sepanjang karier saya, tampaknya saya memang diberi amanah untuk membenahi perusahaan yang performanya kurang baik.   

Tantangan yang saya hadapi berbeda-beda. Sewaktu memimpin PT Djakarta LIyod, saya harus menerima kenyataan bahwa perusahaan itu memiliki utang hingga Rp 3,6 triliun dengan aset hanya Rp 40 miliar. Selain itu, selama empat bulan karyawan juga tidak digaji.

Di Pelni, pada tahap awal, saya mencoba mempelajari seluk-beluk perusahaan ini. Seperti apa persisnya permasalahannya. Saya mempelajari administrasinya di kantor pusat, kemudian mencocokkannya dengan kondisi di lapangan.

Sebenarnya Pelni adalah organisasi yang tertata rapi sehingga saya tinggal melihat bagaimana efektivitasnya. Karena itu, saya harus mempelajari lebih detail.

Saya harus membuat perusahaan ini profit. Pelni mencatatkan profit Rp 25 miliar tahun lalu. Tahun ini saya belum bisa mengatakan profit, sebab beban yang tersimpan dari tahun-tahun sebelumnya begitu besar yang belum dibukukan dan baru dibukukan tahun ini. Sebelumnya perusahaan ini merugi.

Saya mengajak semua karyawan untuk menyadari kondisi internal dan eksternal perusahaan. Tahun 1990-an merupakan masa kejayaan Pelni, saat perusahaan ini jadi perusahaan pelayaran terbesar. Karyawan bisa mendapatkan bonus 4 kali hingga 5 kali lipat. Pelni juga punya kapal sampai 50-an unit.

Pada waktu itu tiket pesawat mahal sehingga kapal masih menjadi pilihan. Dolar juga masih murah sehingga perawatan suku cadang bisa dilakukan intensif. Maklum, harga suku cadang kapal biasanya dalam dolar. Selain itu, harga bahan bakar Minyak (BBM) masih sangat murah, Rp 500 per liter.

Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah Pelni masih menjadi pelayaran terbesar di tengah pelaku swasta yang juga banyak? Apakah karyawan bisa mendapatkan bonus atas kinerja mereka?

Sekarang, Pelni hanya mempunyai 29 unit kapal. Nilai tukar dolar makin tinggi, harga BBM terus naik. Yang patut menjadi catatan, harga tiket pesawat semakin murah. Efeknya, setiap tahun penumpang kapal bisa menyusut hingga 1 juta orang.

Semua fakta itu saya sampaikan kepada karyawan. Mereka baru menyadari itu. Artinya ketika mereka masih bertahan seperti sekarang, bisa dibayangkan apa jadinya Pelni nanti?

Untuk menyadarkan mereka memang tidak mudah. Itu menjadi tantangan saya. Maklum saja, selama bertahun-tahun mereka terbiasa dengan ritme kerja seperti itu.

Pelni saat ini memiliki 4.620 karyawan. Dari jumlah tersebut didominasi oleh karyawan berusia 40–49 tahun. Kemudian disusul karyawan usia 50–55 tahun. Di usia mereka itu tentu sudah merasa di zona nyaman. Ini juga yang menjadi tantangan bagi saya.

Saya tidak mungkin menambah jumlah karyawan. Jadi, harus memanfaatkan yang ada. Untuk itu saya terus melakukan pendekatan ke karyawan mengenai ancaman yang akan terjadi bila mereka tak mengubah cara kerja. Syukurlah, mereka mau berubah dan menyadari bahwa lingkungan di luar sana persaingannya bergerak cepat.  
Mulai tingkatkan kargo

Selama ini Pelni terbiasa melayani penumpang. Namun kalau hanya berbisnis jasa angkutan penumpang, tentu ke depan Pelni akan mengalami kesulitan. Sebab, low cost carrier atau tiket pesawat murah menjadi pesaing yang mampu menyedot penumpang kapal laut. Hal ini tidak dapat dibendung karena penumpang tentu akan memilih angkutan cepat dan berbiaya murah.

Untuk itu, mulai tahun depan, kami akan serius menggarap bisnis kargo. Selama ini, kontribusi bisnis kargo hanya 30% sedangkan penumpang 70%. Harapannya, tahun 2017 porsi itu bisa dibalik.

Saya sudah melobi beberapa klien untuk memanfaatkan layanan ini. Kami memilih fokus dengan bisnis kargo karena bisnis inilah yang pasarnya terbuka saat ini. Peluangnya besar dan sudah di depan mata.

Misalnya, kebutuhan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengangkut batubara mencapai 50 juta ton per tahun. Belum BUMN lain yang membutuhkan jasa angkut, seperti Pertamina dan industri perkebunan. Kami bisa bersinergi dengan perusahaan BUMN lain.

Sekalipun bermain di kargo, kami tidak akan mengurangi pelayanan ke penumpang. Sebab, layanan transportasi antarpulau, khususnya yang tidak terjangkau angkutan lain, juga masih banyak.

Tahun 2015 kami akan bermain di layanan pariwisata dan tahun selanjutnya baru layanan internasional.

Tahun 2013 kami canangkan sebagai tahun perubahan. Sedikit demi sedikit hasilnya sudah terlihat. Sekarang, kalau lihat di Tanjung Priok, Surabaya, dan Makassar layanan embarkasi sudah teratur. Sebelumnya semrawut.

Kami juga mulai mengurangi free rider and free cargo. Kami mendapat laporan banyak penumpang yang tidak bayar di atas kapal, begitu juga dengan barangnya yang tidak dibayar.

Ketika saya baru sebulan memimpin Pelni, ada yang memberi informasi banyak barang yang diangkut kapal tidak dibayar. Karena saya masih memiliki jadwal yang padat, saya meminta pengacara ke pelabuhan untuk mencermati hal itu. Hasilnya, tadinya saya pikir hanya 20–30 koli, tapi ternyata yang tidak bayar sampai 700 koli.

Dari hasil penyelidikan, banyak oknum yang terlibat, termasuk dari Pelni sendiri. Makanya kami tata ulang semua sistem layanan dan ketertibannya bekerja sama dengan TNI AL, Kapolri, dan Kementerian Perhubungan. Syukurlah, sejak September lalu sudah mulai tertata. Kalau sebelumnya kapal dikuasai kuli angkut dan preman, sekarang tertata rapi.

Kami menyadari sekalipun sudah tertata, bukan berarti masalah ini sudah tuntas. Pasti ada celah untuk melakukan kecurangan. Untuk itu kami tidak segan-segan memberikan sanksi dan hukuman kepada oknum karyawan yang terbukti melakukan kecurangan. Kami juga tidak segan-segan menurunkan jabatannya. Sudah ada beberapa karyawan Pelni yang mendapatkan hukuman itu.

Mulai tahun ini, kami juga melakukan penyesuaian tarif kapal non-subsidi. Selama ini sebagian besar kapal kami dibiayai oleh pemerintah. Tetapi sebagian kapal ada yang tidak disubsidi, artinya kami harus menghidupi sendiri. Sayangnya, kapal non-subsidi ini dikelola seperti layaknya kapal subsidi. Ya, rugi terus dong!

Ini harus diubah. Pelayanan diubah dan tarifnya juga harus berubah antara subsidi dan non-subsidi. Ini juga sudah mulai berjalan.

Tahun depan kami berharap layanan kapal non-subsidi ini bisa lebih baik dan teratur. Paling tidak bisa satu penumpang untuk satu tempat duduk.

Kami juga sedang mengkaji efisiensi BBM. Sebab, biaya BBM sangat besar, bisa 60% dari total operasional. Tahun 2012, biaya BBM mencapai Rp 1,2 triliun. Kami sedang bekerja sama dengan Institut Teknologi Surabaya (ITS) untuk mengkaji efisiensi BBM ini.


Reporter: Syahril Japarin
Editor: aricatur

TERBARU
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0144 || diagnostic_api_kanan = 0.1920 || diagnostic_web = 0.6057

Close [X]
×