kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.984
  • EMAS705.000 0,14%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%
EXECUTIVE / CEO's TALK

Target kami masuk 10 besar

oleh Nio Yantony - Presiden Direktur Pikko Group:


Rabu, 25 April 2012 / 09:24 WIB

Target kami masuk 10 besar

Menjelang akhir tahun lalu, Pikko Group mengakuisisi PT Royal Oak Development Tbk (RODA) senilai Rp 26,88 miliar. Padahal, RODA terkenal sebagai perusahaan merugi. Kini, RODA malah jadi senjata ampuh Pikko Group untuk berekspansi. Bagaimana rencana ekspansi Pikko Group? Berikut wawancara wartawan KONTAN Andri Indradie dengan Nio Yantony, Presiden Direktur Pikko Group, Jumat (20/4), akhir pekan lalu.

Perlu saya jelaskan dulu, bahwa Pikko Group ini tidak ada hubungannya dengan Bank Century (sekarang Bank Mutiara) meskipun dulu ada nama Bank Pikko dalam pembentukan Bank Century. Kami perusahaan properti, berdiri 1982 di Jakarta, dan punya lebih dari 30 proyek yang semuanya cukup berhasil.

Kapitalisasi pasar kami sekarang sekitar Rp 4 triliun–Rp 5 triliun. Sebagai gambaran, sekarang, Group Lippo punya kapitalisasi pasar sekitar Rp 19 triliun dan menjadi yang terbesar di industri properti. Kapitalisasi pasar Agung Podomoro sekitar Rp 8 triliun.

Memang, kami belum masuk 10 besar, tapi banyak proyek kami yang tergolong sukses, antara lain Sahid Sudirman Residence, Sudirman Park, Hampton’s Park Golf View, dan Maple Park Golf View. Ada juga Thamrin Residence, Thamrin City, serta Villa Permata Gading. Ada pula pusat perbelanjaan seperti The Plaza Semanggi, Pluit Village, Tamini Square, Grand Mall Bekasi, dan Kramat Jati Indah Plaza. Di luar itu, masih ada beberapa landbank di Jakarta.

Di luar Jakarta, Pikko Group punya The Aryaduta Hotel Palembang, Palembang Square, Plaza Medan Fair, Hyatt Regency Bandung, Pasar Baru Bandung, dan masih ada beberapa landbank di Bandung, Medan, Palembang, dan Surabaya.

Saat ini, proyek yang sedang dikembangkan dan laku keras adalah Signature Park Apartments yang berlokasi di Jalan M.T. Haryono, Jakarta. Seluruh unitnya, sekitar 661 unit, sudah terjual habis dalam waktu kurang dari setahun. Karena permintaan tinggi, kami meluncurkan proyek tahap kedua yang kami beri nama Signature Park Grande Apartments dengan luas lahan sekitar 4 hektare.

Selain itu, Pikko juga sedang membangun apartemen premium di daerah Simprug, Jakarta Selatan, bernama Botanica Garden Residence. Di luar unit residensial, Pikko juga membangun tower kantor premium di Jalan Sudirman bernama Sahid Sudirman Center. Untuk proyek ini, saya bekerja sama dengan Sukamdani dan Tan Kian.

Intinya, proyek-proyek kami ini banyak yang hasil kerja sama. Di industri properti, sinergi sangat penting. Sinergi kami dengan beberapa mitra sudah terbukti baik, antara lain dengan Grup Lippo, Grup Agung Podomoro, Grup Sahid, Grup Istana, Grup Metropolis, dan Grup Spring Hills.

Nah, ke depan, kami berharap bisa menjaga hubungan baik ini terus sembari mengembangkan proyek-proyek baru secara bertahap. Dalam lima tahun, kami menargetkan kapitalisasi pasar sudah bisa Rp 10 triliun dan masuk di jajaran 10 besar perusahaan properti. Saya memang tak bisa menyebut target pendapatan atau laba, tapi kami ingin tumbuh dua kali lipat setiap tahun.

RODA sebagai senjata

Bagaimana mencapainya? Pertama, tidak hanya akan ekspansif di Jakarta, tetapi juga lebih ekspansif di luar Jakarta, seperti Medan, Surabaya, Palembang, dan Bandung.

Kedua, kami sekarang punya PT Royal Oak Development Asia Tbk (RODA) sebagai senjata agar bisnis bisa lebih ekspansif. Lewat RODA, banyak aksi korporasi yang bisa kami lakukan. Katakanlah, emisi obligasi (penerbitan surat utang perusahaan) atau rights issue (penerbitan saham baru) untuk menambah modal.

Di samping itu, meski masih bisa pinjam bank, jika ada RODA yang sudah merupakan perusahaan publik, jalannya atau banyak cara bisa dilakukan dan lebih fleksibel.
Memang, RODA ini nama baiknya sempat turun sebelum kami akuisisi. Orang bilang perusahaan ini rugi, pendapatan menurun, banyak utang, dan sebagainya. Tetapi, justru saat ini, perusahaan ini menguntungkan bagi kami.

Kalau kami harus listing dan IPO (proses penjualan saham perdana dan menjadi emiten di bursa saham), hal itu makan waktu lama. Ribet dari soal perizinan, menyewa jasa perusahaan untuk membuat perusahaan IPO, dan sebagainya.

Nah, kalau membeli RODA, kami langsung punya perusahaan publik. Yang buruk-buruk kami buang, kami masukkan bisnis yang bagus. Kami divestasi usaha asuransi dan multifinance. Masuk di properti, kami sudah akuisisi delapan perusahaan sepanjang 2011. Tahun ini, kami akan lanjutkan beberapa perusahaan lagi, sekitar lima perusahaan.

Ke depan, untuk memperbaiki citra RODA, kami akan ganti nama menjadi Pikko Land Development Tbk. Bulan Mei nanti kami akan mengadakan rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk meminta izin pemegang saham soal penggantian nama dan laporan arus kas.

Sekarang, berangsur-angsur RODA membaik. Harga saham yang tadinya Rp 50 sekarang sudah Rp 360. Pendapatan juga membaik. Harapan saya, penggantian nama ini bisa memperbaiki citra RODA sebagai penggerak dan senjata bisnis kami.

Setelah penggantian nama, RODA akan menjadi pemilik saham perusahaan-perusahaan yang memegang proyek-proyek Pikko Group. Untung proyek-proyek nanti masuk ke RODA. Kalaupun proyek rugi, nanti juga RODA yang menanggung. Semoga saja tidak rugi. Sebab, tujuan bisnis kan tetap untung yang kita cari.

Nah, kami sudah punya senjata. Strategi berikutnya, yang ketiga adalah fokus pada likuiditas. Bergerak di industri properti, kami akan selalu jaga likuiditas agar kuat jika ada guncangan ekonomi yang mungkin terjadi kemudian.

Keempat, kami juga lebih akan fokus ke efisiensi, mengatur alur produksi dengan baik tanpa mengurangi kualitas layanan dan produk. Anda tahu, industri properti saat ini sudah berkembang ke arah yang sangat dinamis dan personal. Menjual residensial (landed houses atau apartemen) tak bisa hanya sekadar “menjual”. Artinya, customer datang, bayar, dan selesai.

Menjual properti itu menjual “tempat tinggal” di mana seseorang punya harapan tinggi tak hanya terhadap tempat tinggal itu, tetapi juga capital gain atau keuntungan esok hari. Istilahnya, properti untuk investasi. Oleh karena itu, produk harus dibuat sebaik mungkin supaya harapan pembeli terpenuhi.

Properti juga merupakan bisnis jangka panjang. Komitmen dan reputasi adalah kunci keberhasilan. Konsumen perlu dipelihara agar puas dan setia. Kalau ada satu proyek mangkrak, proyek yang lain juga akan terkena dampaknya. Ini masalah kepercayaan.

Untuk itu, dua poin terakhir, menjaga likuiditas dan efisiensi perusahaan dengan menjaga kualitas layanan dan mutu produk sangatlah penting. Yang jelas, apa yang menjadi optimisme kami adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Seiring dengan pertumbuhan Indonesia yang semakin meningkat, pertumbuhan kebutuhan tempat tinggal, iklim usaha yang semakin bertumbuh, didukung oleh instrumen keuangan yang kondusif, kondisi pasar properti jadi bergairah. Kami tak mau ketinggalan dalam merebut peluang ini.

Perubahan pasti akan selalu ada dalam setiap bisnis. Dengan pengalaman didukung kepekaan manajemen, kami yakin akan mampu melihat perubahan yang terjadi, termasuk mengubah hambatan menjadi sebuah peluang baru.


Reporter: Nio Yantony
Editor: aricatur

TERBARU
Terpopuler
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0191 || diagnostic_api_kanan = 0.0579 || diagnostic_web = 0.3914

Close [X]
×