kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.578
  • SUN95,67 0,00%
  • EMAS656.000 -0,46%

Belajar dari barisan para mantan

oleh Erik Meijer - Presiden Direktur Telkom Telstra

Sabtu, 24 November 2018 / 08:00 WIB

Belajar dari barisan para mantan

Saat datang ke Indonesia tahun 1993 hingga saat ini, saya selalu menjadi orang yang selalu belajar dan mengambil nilai-nilai positif dari orang lain. Terutama dari barisan orang-orang yang pernah jadi bos saya sebelumnya.

Saya belajar filosofi kepemimpinan dari dua mantan bos saya di Telkomsel, yakni Rudiantara dan Hasnul Suhaimi. Kedua gaya kepemimpian beliau coba saya kombinasikan ketika saya menjadi pemimpin. Dan hal tersebut cukup menarik.

Pak Rudiantara adalah tipikal pemimpin yang berorientasi pada hasil. Beliau, misalnya, memberi solusi bagaimana tim di perusahaan bisa meraih hasil yang terbaik. Hal ini mendorong banyak karyawan ingin memiliki prestasi dalam pekerjaan mereka.

Sementara dari Pak Hasnul, saya belajar mengenai bagaimana teori dan formalitas menjadi pemimpin. Pasalnya, beliau memiliki gaya manajerial yang paling lengkap dari semua bos yang pernah saya temui.

Selain keduanya itu, kombinasi gaya kepemimpinan saya juga terpengaruh Emirsyah Satar, mantan bos saya di PT Garuda Indonesia Tbk. Dari beliau saya belajar menjadi seorang pemimpin yang mampu membimbing orang baru agar bisa beradaptasi dengan cepat di perusahaan.

Selain itu, saya juga belajar dari beberapa orang di Bakrie Group dari sisi pengembangan inovasi dan ide-ide segar yang menginspirasi saya hingga saat ini.

Jadi, bisa dikatakan hampir tak ada satu figur orisinal yang saya contoh seluruhnya dari mantan pimpinan saya di masa lalu. Semua saya pelajari dan saya petik nilai-nilai positif mereka dan mengkombinasikannya.

Selain belajar dari orang lain, ada pula nilai yang sudah saya tanamkan sejak saya mendarat di Indonesia dan bertahan hingga saat ini.

Pertama, jangan sombong. Saya berupaya mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi pribadi yang sombong dan sok tahu. Saya berpikir bahwa kegagalan selalu diawali dari sikap sombong dan sok tahu karena tak mau belajar dari orang lain.

Prinsip ini sudah saya buktikan saat saya puluhan tahun berada di perusahaan telekomunikasi, tiba-tiba saya diberikan kepercayaan masuk ke bisnis penerbangan.  Enam bulan pertama, saya harus belajar dengan tim yang ada di perusahaan tersebut.

Kedua, berkolaborasi dan sinergi yang erat. Sejak awal  saya selalu mengatakan pada diri saya bahwa kelak bila menjadi pemimpin, saya bukan pemimpin yang diktator.

Saya yakin setiap orang dalam perusahaan punya ide dan pemikiran yang baik, makanya ide tersebut harus bisa disalurkan oleh pemimpinnya. Untuk itu, saya cenderung mengumpulkan ide secara luas dari berbagai tim sebelum akhirnya ambil keputusan.

Ketiga, tidak malu atau takut berubah pikiran. Saya sering memperhatikan, banyak pemimpin kalau sudah bicara A ya A terus. Mereka malu kalau jadi B meskipun B ini lebih baik.

Saya coba menerapkan bukan menjadi pemimpin seperti itu. Saya tidak takut ambil keputusan A, tapi kalau selama proses berjalan ada informasi baru, tim yang bilang ada yang salah atau B lebih baik, saya tak masalah untuk berubah pikiran.

Dari filosofi kepemimpinan yang saya pelajari selama ini  dan dari prinsip kepemimpinan yang saya miliki sejak awal semua dikombinasikan. Sejauh ini saya merasa apa yang saya terapkan berdampak positif. Hal ini membuat hasil akhirnya memuaskan karena melalui proses yang lebih matang.

Reporter: Harian Kontan
Editor: Mesti Sinaga

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0005 || diagnostic_api_kanan = 0.0604 || diagnostic_web = 0.3530

Close [X]
×