kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Berbahaya ambil risiko di pasar belum proven


Kamis, 08 Agustus 2019 / 10:50 WIB

Berbahaya ambil risiko di pasar belum proven

Pinjam meminjam uang berbasis aplikasi atau pear to pear (P2P) lending jadi tren baru di tanah air. Pemainnya terus bermunculan. Salah satunya, PT Lunaria Annua Teknologi (KoinWorks) yang kini mampu menyalurkan pinjaman Rp 150 miliar per bulan. Kepada jurnalis KONTAN Putri Werdiningsih, Benedicto Haryono, CEO dan Co-Founder KoinWorks, menuturkan strateginya membangun bisnis ini.

 

Saya memang ada jiwa entrepreneur yang ingin mencari ide bisnis. Beberapa kali, saya sempat melihat pear to pear (P2P) lending atau aktivitas pinjam meminjam menjadi ide sangat menarik. Kebutuhannya jelas, baik dari peminjam maupun pendana.

 

Maka dari itu, saya menamakan perusahaan ini KoinWorks. Koin artinya komunitas investasi, dan Works dipilih agar merefleksikan aktivitas utama di bidang pinjaman. Kami ingin semua stakeholder mendapatkan nilai tambah dari produk yang kami tawarkan.

Sebelum akhirnya memulai KoinWorks, kami banyak melakukan riset tentang bagaimana industri P2P. Saya mulai dengan mencari orang untuk bisa masuk, karena saya sendiri bukan dari latar belakang perbankan. Kami banyak melakukan studi ke luar negeri. Misalnya, ke Lending Club dan Prosper dari Amerika Serikat (AS), Funding Circle di Inggris, dan Lufex dari China. Kami melihat bagaimana model bisnis mereka.

Kami memulai riset awal di Januari 2015, dan di Oktober sudah mulai beroperasi penuh. Kemudian KoinWorks resmi diperkenalkan ke publik pada Maret 2016.

Pada tahun ketiga berdiri, perkembangan bisnis kami cukup menggembirakan. Kami memiliki 300.000 pengguna dengan jumlah lender lebih dari 155.000. Tiap bulan rata-rata penyaluran dana sebesar Rp 150 miliar dengan bunga flat 9% per tahun, dan tenor mulai dari 6 bulan hingga 6 tahun. Tahun ini, target kami adalah menyalurkan dana sebesar Rp 2,3 triliun.

Namun, membangun bisnis menjadi sebesar sekarang cukup banyak kendala, mulai dari persepsi pasar. Ayah saya saja sempat bilang, tidak mungkin (bisnis ini) jalan. Kami harus mengedukasi pasar bahwa konsep ini bisa bekerja dan memiliki potensi.

Masyarakat bertanya, KoinWorks siapa? Benar tidak kalau mengajukan pinjaman akan cair? Dari sisi lender atau pemilik dana juga tidak berani berinvestasi. Kalau pun percaya, mereka masih menanyakan, apakah dananya akan kembali atau tidak?

Makanya, kami mengadakan acara untuk mengedukasi pasar. Di awal-awal, edukasi lebih mengarah ke peminjam. Baru pada tahun 2017, kami mulai mengadakan event ke pendana.

Kendala juga datang dari pilihan kami di awal untuk fokus pada kualitas pinjaman dibandingkan pertumbuhan. Sementara, saat itu beberapa platform sejenis yang juga mulai merintis bisnis dan fokus pada pertumbuhan terlihat tumbuh terus. Kami sempat dikritik investor, kenapa tidak seperti mereka?

Bagi kami, konsep sebagai perusahaan finansial harus menganut pendekatan coverage risk. Masuk ke industri yang belum terbukti (proven) di Indonesia, kami juga harus bertanggung jawab terhadap pendana. Kalau terlalu mengambil risiko, sedangkan pasar belum proven, itu bisa berbahaya.

Yang terpenting adalah memberikan nilai tambah bagi stakeholder dan membangun bisnis secara berkelanjutan. Kami tidak selalu menargetkan pertumbuhan 10% setiap tahun. Yang penting, ada pertumbuhan berkelanjutan tanpa mengambil risiko berlebihan.

Sekarang non performing loan (NPL) kami masih di bawah 1%. Namun, yang kami lihat bukan NPL, tetapi imbal hasil untuk lender. Kalau imbal hasil tetap masuk akal, walaupun NPL 3%, itu tidak jadi masalah.


Selektif cari investor

Kami tidak mudah mencari investor karena kami sebenarnya pemilih. Kami menyeleksi investor. Biasanya, kami membangun relasi dengan investor cukup lama, sebelum akhirnya mereka bergabung.

Bank Mandiri misalnya, sebelum masuk ke pendanaan seri A, kami sudah berbicara dengan mereka selama kurang lebih 9 bulan. Begitu juga dengan East Venture. Meski belum menyuntikkan dana, tetapi relasi sudah terjalin karena dulu kami berkantor di gedung yang sama.

Kami tidak terpengaruh pemain lain yang mendapat pendanaan. Kami harus bertahan dan cukup yakin dengan visi awal. Karena itu, kami juga tidak melakukan sesuatu hanya karena tekanan investor. Kami mencari investor yang sejalan. Kalau mereka sudah masuk, tetapi memiliki visi berseberangan, itu justru semakin sulit. Bisnis tidak akan memiliki identitas.

Bagi investor, tekfin secara umum memang sedang seksi. Tapi, apakah investor itu masuk hanya karena fear of missing out (FOMO) atau memang mereka sudah menganalisa industri tersebut? Ini yang tidak kami tahu. Jadi, jangan sembarangan cari investor, karena mencari investor itu seperti menikah.

Saat ini, kami sedang mencoba menerapkan strategi lebih agresif dalam menjaring peminjam. Sejak Januari, pendekatannya langsung ke konsumen baru. Dengan strategi ini, kami bisa menargetkan sisi profil konsumen. Kami melihat rekam jejak dan daya tarik bisnis mereka. Kami cukup fleksibel memberikan pinjaman. Tetapi, mereka biasanya mengambil dari small ke medium size, mulai Rp 10 juta-Rp 200 juta.

Sekarang persaingan antar-pemain sudah terjadi. Kalau dulu masing-masing platform memiliki pasar sendiri, kini mulai terlihat ada kompetisi. Namun, pasar industri keuangan sangat besar. Kuenya masih banyak. Kami masih belum melihat kompetisi terlalu berat.

Benedicto Haryono
Chief Executive Officer KoinWorks


Reporter: RR Putri Werdiningsih


Close [X]
×