kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Berbenah diri di era revolusi industri 4.0


Rabu, 18 September 2019 / 10:25 WIB

Berbenah diri di era revolusi industri 4.0

KONTAN.CO.ID - Era teknologi 4.0 memunculkan banyak perusahaan rintisan alias start up. Ini menjadi pemantik pertumbuhan perusahaan modal ventura di Indonesia. Kepada Wartawan KONTAN Merlinda Riska, Chief Executive Officer (CEO) PT Bahana Artha Ventura (BAV) Muhammad Sidik Heruwibowo, memaparkan strateginya untuk bisa unggul di bisnis yang semakin kompetitif ini.

Saya diangkat menjadi Direktur Utama Bahana Artha Ventura (BAV) pada 24 April 2018. Sebelum itu, saya lahir dan besar di Bank Rakyat Indonesia (BRI) sejak tahun 1990. BRI memiliki 35% saham BAV, sisanya 65% dimiliki oleh PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI).

Banyak nilai dan budaya perusahaan yang saya bawa dari BRI untuk diadopsi di perusahaan ini. Saya membiasakan seluruh karyawan untuk melakukan doa pagi bersama sebelum bekerja. Sesi doa pagi bertujuan meminta restu Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai wadah bagi karyawan di sini untuk saling sharing.

Saat saya masuk ke BAV, perusahaan ini memiliki strategi bisnis berupa pembiayaan saja. Saat ini, saya mengubahnya dengan melakukan berbagai diversifikasi usaha.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengubah visi. Visi yang ingin dicapai adalah menjadi perusahaan modal ventura terkemuka di Indonesia.

BAV didirikan tahun 1993 dan merupakan pelopor perusahaan modal ventura di Indonesia. Sebanyak 40% dari total perusahaan modal ventura di Indonesia adalah milik BAV.

BAV memiliki jaringan anak usaha bernama Perusahaan Modal Ventura Daerah (PMVD) di 25 provinsi. Namun, jumlah investasi yang disalurkan BAV baru 17% dari total modal ventura. Artinya, jumlah unit bisnisnya memang banyak, tapi nilainya kecil.

Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki aturan tentang modal ventura mulai tahun 2015. Aturan ini menyebutkan bahwa bisnis modal ventura bukan sekadar pembiayaan, tapi juga penyertaan saham dan program pemerintah.

 

Strategi 5 P

Hal inilah yang membuat saya lebih terarah mencapai visi dengan menuangkannya ke dalam strategi bisnis perusahaan yang disebut sebagai 5 P.

Pertama, pertumbuhan bisnis inti. Bisnis inti BAV adalah sebagai lembaga pembiayaan. Di bisnis inti ini, BAV kuat di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bisnis inti ini bisa tetap bertumbuh. Caranya dengan melakukan optimalisasi dana program kemitraan (PK) BUMN dan penyaluran pembiayaan ultra mikro (UMi). UMi ini juga merupakan program pemerintah yang ditujukan untuk masyarakat pra-sejahtera. Nilai pinjaman ini di bawah Rp 10 juta.

Sejak tahun 2017 hingga kini, BAV telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 1 triliun dengan menggandeng 40 koperasi dan mencakup 25 provinsi.

Non performing finance (NPF) BAV sampai sekarang nol. Strategi bekerja sama dengan koperasi ini membantu BAV untuk bisa tepat, terarah, dan terjaga secara bisnis.

Kedua, pengembangan produk baru. Strategi P kedua ini merupakan implementasi mandat dari aturan OJK berupa penyertaan modal. Tahun ini, saya menargetkan akan ada tiga perusahaan startup yang bisa diinjeksi oleh BAV.

Namun, perusahaan start up yang dipilih ini haruslah in line dengan strategi pertama. Perusahaan rintisan itu bisa dikolaborasikan untuk menyalurkan pembiayaan kepada UMKM.

Saat ini, BAV sedang dalam proses untuk bisa berkolaborasi dan melakukan penyertaan modal dengan Aruna, perusahaan startup di bidang sektor perikanan dan kelautan.

Kolaborasi dengan Aruna diharapkan bisa meningkatkan bisnis inti BAV. Karena BAV bisa berperan sebagai pemberi dana kepada Aruna untuk dipinjamkan kepada nelayan.

Ketiga, pengembangan teknologi. Dalam rangka menyongsong era revolusi industri 4.0, BAV harus mau berbenah diri. Bisnis di era ini sangat didukung oleh teknologi. Saya khawatir, saat ini teknologi di BAV tidak siap. Untuk itu, perlu penguatan teknologi yang terpadu dan komprehensif yang diharapkan mampu membuat bisnis tumbuh berkelanjutan.

Langkah yang dilakukan adalah mengembangkan sistem yang berbasis keuangan digital. Juga menyiapkan dasar yang kuat untuk aplikasi antar muka atau application program interface (API).

Keempat, peningkatan budaya kerja. Saya percaya, iklim kerja yang kondusif dan budaya kerja yang baik akan memacu semangat para karyawan.

Kelima, pengembangan sumber daya manusia (SDM). Saya sadar, potensi, dan skill SDM sangat penting sehingga perlu didorong. Sebab, SDM merupakan roda utama untuk menjadikan BAV sebagai the most valuable perusahaan modal ventura.

Muhammad Sidik Heruwibowo
CEO Bahana Artha Ventura


Reporter: Merlinda Riska


Close [X]
×