kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Digitalisasi membangun ekosistem ayam halal

oleh Tommy Wattimena - Presiden Direktur PT Sierad Produce Tbk


Kamis, 03 Oktober 2019 / 11:30 WIB
Digitalisasi membangun ekosistem ayam halal

Reporter: Asnil Bambani Amri | Editor: Tri Adi

Jurus menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan
 
Lama berkecimpung di dunia bisnis sebagai profesional, membuat Tommy Wattimena sarat dengan banyak pengalaman. Ia tak hanya menguasai strategi bisnis, tetapi juga menguasai manajemen serta kita-kiat unik yang terkadang tak terpikirkan oleh orang lain.

Banyak terobosan yang dilakukan selama menjabat pucuk pimpinan di sejumlah perusahaan. Namun terobosan dan inovasinya tak datang dengan sendirinya. Butuh jam terbang dan kemampuan yang ditempa terus-menerus. Harus ada keseimbangan otak kanan dan otak kiri untuk mengembangkan kemampuan kita, kata Tommy yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur PT Sierad Produce Tbk.

Kemampuan mengelola otak kiri dan otak kanan mengantarkan Tommy bekerja di banyak negara. Kreativitas dan inovasinya membuatnya dipercaya sebagai Brand Manager Unilever West Europe Power yang bermarkas di Italia. Ia juga pernah dipercaya memegang jabatan Vice President Category Asia Pacific & Global Platform Unilever Asia.

Lantas, bagaimana cara mengelola otak kanan dan otak kiri bisa seimbang? Tommy bilang, otak kiri itu berfungsi untuk teknologi, otak kanan untuk kreativitas. Penggabungan keduanya menghasilkan terobosan yang bermanfaat untuk dunia bisnis.

Untuk mengembangkan otak kanan, pria yang kerap olahraga jogging dan muay thai itu menyenangi lukisan. Bagi Tommy, lukisan itu bukan sekadar coretan di atas kanvas, tetapi sarat makna yang perlu diterjemahkan. "Untuk memahami itu, saya bergaul dengan pelukis, memahami cara melukis, dan belajar mengenai lukisan dan genre-genre-nya, dan kepala saya refresh," katanya.

Setelah memahami lukisan tersebut, Tommy selanjutnya akan mengetahui mana lukisan yang kreatif, yang bisa menyodorkan hal baru yang belum pernah dilukis sebelumnya. Maka itu, katanya, harga lukisan yang kreatif tersebut sangatlah mahal, bisa miliaran rupiah. "Dari lukisan inilah, saya belajar membuat kreativitas dan terobosan," kata pria yang memiliki banyak koleksi lukisan itu.

Banyak cara yang ditempuh dari pelukis agar bisa menghasilkan kreativitas dan inovasi, seperti lukisan Affandi Koesoema yang melegenda. Agar bisa menghasilkan lukisan yang original, menurut Tommy, Affandi melukis dengan jarinya. Dari konsep melukis ini, ia belajar mengejar target dengan banyak cara, seperti melukis tanpa harus memakai kuas.

Meski menyukai lukisan, namun Tommy tak punya banyak waktu untuk membuat karya lukisan. Ia lebih suka menikmati lukisan orang lain dan memahami subjek pelukisnya. Maklum, seorang pelukis bisa menerjemahkan sesuatu yang abstrak dalam bentuk lukisan. "Pelukis itu sensitif, jika ada dia merasakan ada penindasan, dia bisa menjelaskannya ke kanvas," kata pemilik puluhan lukisan ini.♦

Asnil Bambani Amri




TERBARU

Close [X]
×