kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.460
  • EMAS663.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Insinyur yang merambah aneka sektor

oleh Arviyan Arifin - Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

Sabtu, 02 Maret 2019 / 14:00 WIB

Insinyur yang merambah aneka sektor
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Arviyan Arifin

KONTAN.CO.ID - Dalam tiga dekade menjalani karier, sudah dua kali Arviyan Arifin menjabat sebagai direktur utama di sebuah perusahaan. Menariknya, kedua bidang usaha perusahaan tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan disiplin ilmunya sebagai insinyur teknologi industri. Keberanian menghadapi tantanganlah yang mengantarkan dia di tangga karier.

Arviyan Arifin kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Sebelum bergelut di industri pertambangan, dia malang-melintang di industri perbankan. Siapa sangka jika dia adalah insinyur teknologi industri jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Semasa kecil, tak pernah terbersit dalam benak pria kelahiran Padang, 27 April 1964 itu untuk memiliki impian setinggi langit. Hidup di tengah keluarga yang sederhana, menjadikan Arviyan kecil cukup puas memiliki cita-cita untuk segera mendapatkan pekerjaan agar bisa memperbaiki kondisi perekonomian keluarga.

Maklum, Arviyan adalah sulung dari lima bersaudara. Sang ibu berprofesi sebagai guru sedangkan sang ayah adalah pensiunan pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Kondisi itulah yang memompa semangatnya untuk segera hidup mandiri.

Kala itu, ibunda Arviyan juga sempat memberikan wejangan. "Karena kami ini dari keluarga yang tidak berkecukupan, ya ibu saya mengatakan kalau mau mengubah nasib, harus sekolah dan kerja keras," cerita Arviyan saat dijumpai KONTAN di kantor PT Bukit Asam Tbk pekan lalu.

Selain keluarga, lingkungan juga turut membentuk karakter Arviyan. Dia lahir di Kota Padang, Sumatra Barat. Seperti stigma pada umumnya, uda berdarah Minang tersebut juga bukan jago kandang. Selepas lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), Arviyan memilih untuk merantau ke Bandung demi bersekolah di ITB.

Selepas menyandang gelar insinyur ITB pada tahun 1988, Arviyan langsung memasuki dunia kerja. Dia mengawali karier sebagai staf perencanaan dan pengendalian produksi di PT United Tractor. Setahun dia berkarier di sana.

Perjalanan karier Arviyan selanjutnya menjadi babak pembuka ekspansi ke bidang yang tidak berkaitan dengan disiplin ilmu sebagai insinyur. Dia putar haluan ke industri perbankan. Bank Duta menjadi pelabuhan pertama suami dari Farida tersebut.

Rupanya, disiplin ilmu yang berbeda tidak menghalangi Arviyan. Selama setahun awal, dia berusaha keras untuk mempelajari bisnis perbankan. Usaha pun tidak mengkhianati hasil. Tiga tahun bekerja di Bank Duta, Arviyan menduduki jabatan manager kredit dan pemasaran. Hingga akhirnya, dia naik jabatan menjadi corporate banking.

Pengalaman bekerja di Bank Duta selama tiga tahun menjadi bekal yang sangat berharga bagi Arviyan. Tahun 1992, dia memberanikan diri untuk pindah kapal ke Bank Muamalat. Menurutnya, kala itu industri perbankan dan ekonomi syariah belum bergairah seperti sekarang. Seperti diketahui, Bank Muamalat memelopori industri bank syariah di Indonesia.

Meskipun sama-sama sektor perbankan, Arviyan tetap merasa belajar hal baru di Bank Muamalat. Bersama dengan tim, dia bekerja keras membuat ekonomi syariah lebih memasyarakat kendati implementasinya tidak mudah.

Namun, perjalanan karier Arviyan tak selalu mulus. Saat sedang getol-getolnya menyosialisasikan ekonomi syariah, badai krisis moneter menghantam perekonomian Indonesia pada tahun 1998. Akibatnya, ekonomi nasional tumbang dan banyak perbankan yang berguguran. Beruntung, Bank Muamalat mampu bertahan.

Tatkala badai krisis ekonomi mulai mereda, Bank Muamalat menunjuk Arviyan sebagai ketua tim restrukturisasi aset. Sekitar tahun 1999, bank syariah tersebut bisa dinyatakan mulai kembali stabil. Pada tahun itu pula, dia didapuk sebagai direktur bisnis.

Cobaan kembali datang. Ayahanda Arviyan berpulang di hari yang sama dengan pengangkatannya sebagai direktur tersebut. Bahkan ayahnya belum sempat mengetahui pencapaian terbaru sang anak.

"Jadi beliau pada saat itu tidak mengetahui kalau saya jadi direktur karena beliau meninggal jam 5 pagi sedangkan RUPS (rapat umum pemegang saham) Bank Muamalat itu jam 11 siang," tuturnya.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana
Editor: Noverius Laoli

TERBARU
Hasil Pemilu 2019
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0450 || diagnostic_web = 0.3268

Close [X]
×