kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kami berpegang pada prinsip syariah


Rabu, 21 Agustus 2019 / 12:25 WIB

Kami berpegang pada prinsip syariah

KONTAN.CO.ID -  Bisnis pinjam meminjam berbasis platform online atau peer to peer (P2P) Lending di Indonesia semakin bertumbuh. Hal ini terbukti dengan banyak pemain baru yang terus bermunculan. Demi bisa memenangkan persaingan di pasar, Andi Taufan Garuda Putra, CEO dan Founder PT Amartha Mikro Fintek, menuturkan strateginya kepada jurnalis KONTAN, Merlinda Riska.

Nama Amartha saya ambil dari bahasa Sansekerta yang berarti kehidupan. Filosofinya, agar lembaga ini bisa membantu masyarakat desa di piramida terbawah, untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

Berawal dari tahun 2010, Amartha lahir di sebuah desa yang jauh dari kota besar, yakni Ciseeng, Bogor. Di situ, tidak semua rumah punya aliran listrik langsung dari PLN.

Dengan kondisi yang serba terbatas itu, saya bertanya kepada warga desa, apa yang paling mereka butuhkan. Jawabannya, adalah permodalan. Dari situlah Amartha berdiri sebagai lembaga keuangan mikro.

Awalnya, Amartha menyalurkan permodalan dengan jumlah yang mini, hanya Rp 500.000. Kini, sudah ada yang meminjam hingga Rp 15 juta per orang.

Sampai saat ini, kami sudah menyalurkan Rp 1,2 triliun kepada 261.000 orang peminjam. Kami menyebutnya sebagai Mitra Amartha.

Selama sembilan tahun ini Amartha tetap fokus pada target peminjamnya. Ada tiga kriteria target pasar Amartha. Pertama, perempuan berusia produktif yang tinggal di desa tier 3 dan tier 4. Kedua, mereka tergabung dalam kelompok yang terdiri dari 1520 orang anggota. Ketiga, peminjam menggunakan uangnya untuk hal produktif. Dari sini terlihat, 100% peminjam kami adalah perempuan, yakni ibu-ibu.

Alasan saya kenapa harus ibu-ibu, karena saya ingin memberdayakan para ibu agar bisa mendapatkan income tambahan. Sehingga, mereka tak sekedar mengandalkan gaji suaminya yang kebanyakan adalah buruh. Harapannya dengan adanya double income ini, hidup mereka lebih sejahtera.

Syaratnya enggak sulit, cukup punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan mendapat rekomendasi dari kelompoknya. Di Amartha, kami sebut kelompok ini adalah majelis. Karena prinsip pinjam meminjam kami adalah syariah.

Meskipun terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai konvensional, tapi hingga kini, kami berpegang pada prinsip syariah.

Setelah mendapatkan rekomendasi dari kelompoknya ini, kami melakukan analisa risikonya apakah dapat diberi pinjaman atau tidak. Sebab, sangat berisiko memberikan pinjaman tanpa jaminan.


Tanggung renteng

Saya berusaha memitigasi risikonya dengan konsep kelompok dan tanggung renteng. Kelompoknya bersedia bergotong royong membantu anggotanya apabila terjadi gagal bayar. Itulah mengapa hingga saat ini kredit macet alias non performing loan (NPL) Amartha hanya 0,61%.

Target peminjam yang jelas, dan konsep tanggung renteng bersama kelompok inilah yang membuat Amartha berbeda dari perusahaan P2P Lending lainnya. Para pemilik dana menjadi tertarik dan merasa lebih berdampak meminjamkan dananya lewat Amartha. Sebab, 60% dana pinjaman dipakai untuk berdagang, seperti dagang sembako, nasi uduk.

Selain itu, return yang ditawarkan Amartha sebesar 1,5%2% per bulan juga cukup menarik bagi para pemberi dana pinjaman. Bagi para peminjam, minimal pinjamannya adalah Rp 3 juta dengan tenor selama setahun. Dengan cicilan yang harus dibayarkan per minggu sekitar Rp 68.000 Rp 70.000.

Hitungan saya, nilai cicilan ini masuk akal dan cashflow peminjam pun masih aman. Itulah mengapa Amartha sejak awal diterima oleh warga desa yang sering terjerat renteinir.

Selain permodalan, Amartha juga rutin menggelar program pemberdayaan kepada para majelis Amartha. Misalnya, pelatihan usaha beternak bebek, membuat telor asin, hingga cek kesehatan gratis.

Apabila peminjam berhasil membayarnya secara lunas, tahun depan plafon pinjaman bisa naik jadi Rp 5 juta. Jadi, kenaikan plafon pinjaman, tergantung dari rekam jejak kelancaran pembayarannya. Maksimal pinjaman Rp 15 juta.

Para pemberi dana di Amartha kini terdiri dari perorangan dan institusi. Untuk perorangan, berdasar data yang terdaftar di platform Amartha, jumlahnya mencapai 50.000 orang. Sejak 2017, saban tahun ada juga institusi yang kolaborasi dengan Amartha dengan skema bisnis loan channeling.

Saat ini Amartha sudah menjangkau 3.500 desa di Pulau Jawa. Bulan depan, Amartha akan hadir di Sulawesi. Jangkauan Amartha akan semakin diperluas secara bertahap ke seluruh wilayah Indonesia. Namun, tetap fokusnya adalah masyarakat pedesaan. Karena Amartha ingin tumbuh bersama masyarakat desa.

Andi Taufan Garuda Putra
CEO dan Founder PT Amartha Mikro Fintek


Reporter: Merlinda Riska
Editor: Tri Adi


Close [X]
×