kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45989,59   -6,37   -0.64%
  • EMAS998.000 -0,60%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Kami berpegang pada prinsip syariah


Rabu, 21 Agustus 2019 / 12:25 WIB
Kami berpegang pada prinsip syariah


Reporter: Merlinda Riska | Editor: Tri Adi

KONTAN.CO.ID -  Bisnis pinjam meminjam berbasis platform online atau peer to peer (P2P) Lending di Indonesia semakin bertumbuh. Hal ini terbukti dengan banyak pemain baru yang terus bermunculan. Demi bisa memenangkan persaingan di pasar, Andi Taufan Garuda Putra, CEO dan Founder PT Amartha Mikro Fintek, menuturkan strateginya kepada jurnalis KONTAN, Merlinda Riska.

Nama Amartha saya ambil dari bahasa Sansekerta yang berarti kehidupan. Filosofinya, agar lembaga ini bisa membantu masyarakat desa di piramida terbawah, untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

Berawal dari tahun 2010, Amartha lahir di sebuah desa yang jauh dari kota besar, yakni Ciseeng, Bogor. Di situ, tidak semua rumah punya aliran listrik langsung dari PLN.

Dengan kondisi yang serba terbatas itu, saya bertanya kepada warga desa, apa yang paling mereka butuhkan. Jawabannya, adalah permodalan. Dari situlah Amartha berdiri sebagai lembaga keuangan mikro.

Awalnya, Amartha menyalurkan permodalan dengan jumlah yang mini, hanya Rp 500.000. Kini, sudah ada yang meminjam hingga Rp 15 juta per orang.

Sampai saat ini, kami sudah menyalurkan Rp 1,2 triliun kepada 261.000 orang peminjam. Kami menyebutnya sebagai Mitra Amartha.

Selama sembilan tahun ini Amartha tetap fokus pada target peminjamnya. Ada tiga kriteria target pasar Amartha. Pertama, perempuan berusia produktif yang tinggal di desa tier 3 dan tier 4. Kedua, mereka tergabung dalam kelompok yang terdiri dari 1520 orang anggota. Ketiga, peminjam menggunakan uangnya untuk hal produktif. Dari sini terlihat, 100% peminjam kami adalah perempuan, yakni ibu-ibu.

Alasan saya kenapa harus ibu-ibu, karena saya ingin memberdayakan para ibu agar bisa mendapatkan income tambahan. Sehingga, mereka tak sekedar mengandalkan gaji suaminya yang kebanyakan adalah buruh. Harapannya dengan adanya double income ini, hidup mereka lebih sejahtera.

Syaratnya enggak sulit, cukup punya Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan mendapat rekomendasi dari kelompoknya. Di Amartha, kami sebut kelompok ini adalah majelis. Karena prinsip pinjam meminjam kami adalah syariah.

Meskipun terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai konvensional, tapi hingga kini, kami berpegang pada prinsip syariah.

Setelah mendapatkan rekomendasi dari kelompoknya ini, kami melakukan analisa risikonya apakah dapat diberi pinjaman atau tidak. Sebab, sangat berisiko memberikan pinjaman tanpa jaminan.


Tanggung renteng

Saya berusaha memitigasi risikonya dengan konsep kelompok dan tanggung renteng. Kelompoknya bersedia bergotong royong membantu anggotanya apabila terjadi gagal bayar. Itulah mengapa hingga saat ini kredit macet alias non performing loan (NPL) Amartha hanya 0,61%.

Target peminjam yang jelas, dan konsep tanggung renteng bersama kelompok inilah yang membuat Amartha berbeda dari perusahaan P2P Lending lainnya. Para pemilik dana menjadi tertarik dan merasa lebih berdampak meminjamkan dananya lewat Amartha. Sebab, 60% dana pinjaman dipakai untuk berdagang, seperti dagang sembako, nasi uduk.

Selain itu, return yang ditawarkan Amartha sebesar 1,5%2% per bulan juga cukup menarik bagi para pemberi dana pinjaman. Bagi para peminjam, minimal pinjamannya adalah Rp 3 juta dengan tenor selama setahun. Dengan cicilan yang harus dibayarkan per minggu sekitar Rp 68.000 Rp 70.000.

Hitungan saya, nilai cicilan ini masuk akal dan cashflow peminjam pun masih aman. Itulah mengapa Amartha sejak awal diterima oleh warga desa yang sering terjerat renteinir.

Selain permodalan, Amartha juga rutin menggelar program pemberdayaan kepada para majelis Amartha. Misalnya, pelatihan usaha beternak bebek, membuat telor asin, hingga cek kesehatan gratis.

Apabila peminjam berhasil membayarnya secara lunas, tahun depan plafon pinjaman bisa naik jadi Rp 5 juta. Jadi, kenaikan plafon pinjaman, tergantung dari rekam jejak kelancaran pembayarannya. Maksimal pinjaman Rp 15 juta.

Para pemberi dana di Amartha kini terdiri dari perorangan dan institusi. Untuk perorangan, berdasar data yang terdaftar di platform Amartha, jumlahnya mencapai 50.000 orang. Sejak 2017, saban tahun ada juga institusi yang kolaborasi dengan Amartha dengan skema bisnis loan channeling.

Saat ini Amartha sudah menjangkau 3.500 desa di Pulau Jawa. Bulan depan, Amartha akan hadir di Sulawesi. Jangkauan Amartha akan semakin diperluas secara bertahap ke seluruh wilayah Indonesia. Namun, tetap fokusnya adalah masyarakat pedesaan. Karena Amartha ingin tumbuh bersama masyarakat desa.

Andi Taufan Garuda Putra
CEO dan Founder PT Amartha Mikro Fintek

Ambisi trilomba, bikin bugar dan pikiran segar

Andi Taufan Garuda Putra sedang giat berlari, berenang dan bersepeda saban akhir pekan. Usut punya usut, pria yang akrab disapa Taufan ini rajin berolahraga karena ingin ikut ajang trilomba alias triathlon pada tahun depan. Rencananya, dia akan mengikuti ajang trilomba di Bali atau Bintan.

Taufan menceritakan, sejatinya dia memang menyukai olah raga. Hampir setiap Sabtu, dia bersama teman-temannya bermain sepak bola ataupun basket. Saya juga suka lari sore sepulang kerja di Gelora Bung Karno (GBK). Biasa lari 5 kilometer (km). "Buat saya berolahraga itu ajang untuk melepas stres dan juga bermanfaat buat tubuh kita jadi sehat," katanya.

Tahun lalu, Taufan mengikuti Half Marathon. Setelah merasakan lari Half Marathon, dia tak tertarik untuk ikut full marathon. Baginya, full marathon yang memiliki jarak tempuh 42 km adalah hal yang terlalu ambisius. "finis half marathon, saya enggak mau ikut full maratahon. Karena buat saya terlalu ambisius dan monoton. Jarak 42 km, lari melulu. Maka itu, saya tertarik ingin ikut triathlon tahun depan," imbuhnya.

Seperti kita tahu, di ajang trilomba ini, peserta akan berkompetisi dengan mengikuti tiga cabang olah raga, yakni lari, renang dan bersepeda. Walaupun jaraknya seperti full marathon atau lebih, tapi enggak bosan. Karena olahraganya ganti-ganti, ujar Taufan.

Taufan yang telah memiliki satu orang anak laki-laki berusia satu setengah tahun ini, tak lupa untuk meluangkan waktu bersama keluarganya. Maka, ia sering mengajak buah hatinya untuk ikut bermain bola ataupun berenang.

Bagi Taufan meluangkan waktu bersama keluarga bukan berarti harus hadir di hari Sabtu-Minggu. Dia membaginya dengan perhitungan dalam setiap triwulan, harus ada waktu seminggu-dua minggu bersama keluarga. Waktu bersama keluarga ini sering dipakai untuk pergi liburan bersama.

Beberapa kali Taufan bersama keluarganya liburan ke kawasan wisata pantai. Terkadang, Taufan memang sengaja mengincar kawasan wisata berupa laut supaya bisa sekalian menyalurkan hobinya berolahraga. "Saya juga suka scuba diving atau sekadar snorkeling," tuturnya.

Berolahraga di tempat wisata tentu sangat menyenangkan. Sebab, pemandangan di tempat wisata biasanya memanjakan mata dan membuat pikiran menjadi fresh.

Maka itu, Taufan bersungguh-sungguh mempersiapkan fisiknya agar bisa ikut ajang trilomba tahun depan. "Saya mengeset hal yang impossible ini menjadi possible buat saya. Karena manfaatnya, membuat tubuh bugar dan pikiran ikut segar," tegasnya.♦

Merlinda Riska

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×