kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Kita era digital, tapi industrinya tradisional


Selasa, 23 April 2019 / 16:08 WIB

Kita era digital, tapi industrinya tradisional

Fokus teknologi

Kami mendapat izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2015 dan langsung bikin reksadana pertama. Tahun pertama, AUM atau

Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana kami baru di bawah Rp 1 miliar. Setelah itu, baru naik bertahap hingga menjadi Rp 4,5 triliun di akhir 2018.

Hanya dalam hitungan tahun, produk kami meraih penghargaan, termasuk dari KONTAN-Bareksa. Kami membuktikan bisa jadi MI dengan perkembangan tercepat di Indonesia. Strategi kami fokus ke rekam jejak yang solid dan tidak menjadikan AUM sebagai target.

Setelah beroperasi 3,5 tahun, kami mencetak 18 produk, 7 produk reksadana ETF (exchange-traded fund). Kami konsisten sebagai MI berbasis teknologi pertama di Indonesia yang menerapkan strategi investasi kuantitatif.

Fokus kami berbeda dengan MI lain yang melihat analisis fundamental untuk investasi. Kami menentukan arah investasi lewat strategi kuantitatif melalui keahlian insinyur fisika, matematika dan komputer.

Dari 21 karyawan kami, 40% adalah ilmuwan bukan analis. Konsep kami ini telah diterapkan di New York, Jepang dan Eropa.

Dengan strategi kuantitatif, kami melengkapi angka dan data. Boleh dibilang, kami adalah MI yang memiliki data paling lengkap terkait bursa saham Indonesia.

Kami punya data detik per detik transaksi di bursa sejak 20 tahun ke belakang. Dan kami juga membangun database. Kami sadar sekarang era big data, dimana data adalah komoditas yang bisa diperdagangkan.

Sebelum teknologi ekstraksi data ada, setidaknya butuh 20 analis untuk membaca data manual. Sekarang, hanya butuh algoritma.

Makanya, kami punya server developer, data science development, dan quantitative research.

Tapi, memang sesuatu yang baru punya tantangan besar. Ibarat Go-Jek yang melakukan disruptif, yang tentu saja sulit diterima pas awal.

Begitu juga dengan kami. Di awal, kami lebih banyak menyasar nasabah institusi, dana pensiun, asuransi jiwa, dan korporasi.

Ke depan, kami pikirkan bangun brand ritel, karena dari 260 juta penduduk Indonesia, yang investasi hanya 1% sampai 2%.

Namun, ini tentu tak mudah menawarkan sesuatu yang berbeda dari industri asset management di Indonesia. Apalagi kami adalah MI yang ke-80 dari 85-an MI yang terdaftar.

Ada banyak yang mulai sebelum kita, tapi kami punya pengalaman, expertise, transparansi, serta punya tawaran baru.

Untuk pemasaran, kami memasarkan reksadana dengan perusahaan digital. Kanal perbankan baru kami jajaki.

Tantangan saat ini adalah regulasi yang belum sepenuhnya beradaptasi. Namun, OJK sudah membuka diri untuk menyesuaikan regulasinya.      ◆


Reporter: Asnil Bambani Amri
Editor: Mesti Sinaga


Close [X]
×