kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.935
  • EMAS714.000 1,28%
  • RD.SAHAM 0.53%
  • RD.CAMPURAN 0.27%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.13%

Rudy Salim: Jangan idealis, lakukan diversifikasi


Selasa, 19 Maret 2019 / 14:06 WIB

Rudy Salim: Jangan idealis, lakukan diversifikasi
ILUSTRASI. Rudy Salim, Presiden Direktur Prestige Image Motorcars

Berawal dari pembiayaan mikro tahun 2006 lalu, kini bisnis itu beranak pinak hingga bisnis properti, makanan dan minuman, rumah produksi, dan bisnis mobil supercar.  Tak berhenti, pemilik bisnis itu kini sedang menjajal bisnis teknologi. Rudy Salim, Chief Executive Officer (CEO) Prestige Corp membeberkan rencana bisnisnya ke Jurnalis KONTAN, Asnil Bambani Amri.

Saya pertama kali bisnis micro finance bernama Excel Trade tahun 2006. Ini bisnis kredit handphone dan home appliance daring pertama saat itu. Saya pasarkan lewat Kaskus, yang saat itu menjadi komunitas daring terbesar di Indonesia. Kala itu, belum ada e-commerce, Instagram, Facebook, dan lainnya.

Belakangan kredit daring dikenal dengan teknologi finansial (tekfin), sementara saya sudah melakukannya jauh hari. Di bisnis ini, awalnya, saya fokus kredit BlackBerry yang banyak peminat. Modal Rp 300 juta, sebagai modal awal, terserap dalam seminggu.

Saya kemudian mencari investor. Rupanya, banyak yang tertarik karena bisnis saya efisien dan bermargin besar. Hasilnya, transaksi saya naik sampai Rp 3 miliar per bulan. Tiga bulan pertama, sempat ada kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) 8%. Maklum kreditnya cukup pakai kartu keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Setelah kami evaluasi tiga bulan, kami bikin sistem sehingga bisa meminimalisir kredit macet menjadi 1,8%.

Bisnis Excel Trade mulai tertekan saat tren digital hadir, ecommerce datang, dan kompetitor marak di 2012. Saya diversifikasi bisnis dengan mengimpor dua unit Mercy dan satu unit Porsche untuk dijual. Tiga unit itulah cikal bakal bisnis supercar Prestige Image Motor yang kini memasarkan 37 supercar dari berbagai merek.

Bisnis supercar mencapai kejayaan di 2013, hingga berhadapan dengan pelemahan rupiah di tahun 2014. Saat itu, pajak penjualan barang mewah yang naik dari 75% jadi 125% membuat harga naik drastis dua kali lipat. Saya tak ambil pusing. Saya alihkan impor mobil listrik Tesla yang pajaknya kecil. Hasilnya, pendapatan kami stabil.

Diversifikasi saya lanjutkan dengan bisnis properti dan makanan. Saya sewa lahan di bandara Soekarno-Hatta seluas 1,5 hektare dan saya jadikan tempat kuliner Space Market yang saya sewakan lagi ke pemilik restoran Bebek Tepi Sawah, Mang Engking, dan lain-lain.

Di bisnis makanan, saya buka lima toko kue, kerjasama dengan Luna Maya. Saya punya prinsip, tidak mau menaruh telur di satu keranjang. Jika keranjang jatuh, maka semuanya bisa pecah. Makanya, saya sebar investasinya. Bisnis makanan saya yang lain adalah restoran Kastera, Geinshou, TAB Take a Bite, High Style Hotpot, Mango Bomb.

Dalam waktu dekat, saya juga akan menghadirkan restoran Wolfgang’s Steakhouse dari Amerika Serikat (AS). Satu lagi restoran Jepang yang akan saya akuisisi. Ini semua asal muasalnya dari micro finance.

Saya merasakan nikmatnya bisnis makanan, karena semua tunai, tak seperti bisnis saya yang lain. Beberapa tahun lalu, saya juga membuka rumah produksi RA Picture dengan Rafi Ahmad. Saat ini, kami produksi 12 film, tujuh sudah tayang.

 

Beda bisnis beda strategi

Setiap bisnis memiliki strategi yang berbeda. Memasarkan supercar berbeda memasarkan film atau makanan. Bisnis film cukup dengan menjual tiket plus dengan hadiah minyak goreng. Kalau supercar tak bisa, butuh personal approach. Contoh, saya jual supercar ke Ketua DPR Bambang Soesatyo, bukan staf yang melayani, tapi saya.

Tantangan lainnya adalah, bisnis supercar bisnis sulit, pajaknya besar, dan pasarnya terbatas. Selain personal approach, saya susun strategi lain yaitu unique selling proportion. Saya harus jual supercar pertama dan belum pernah ada di Indonesia. Sebelum impor, saya melakukan penjajakan dulu, agar setelah impor langsung ada peminatnya. Ternyata sukses! Jadi, setiap saya impor, langsung ada yang membeli tanpa inden. Ini yang membedakan kami dari pesaing.

Strategi bisnis supercar juga berbeda dengan bisnis mobil biasa yang bisa terjual ratusan unit. Penjualan supercar paling 20 unit per tahun, tapi harganya  Rp 8 miliar–Rp 90 miliar.

Dalam bisnis, saya bukanlah orang idealis harus bisnis supercar saja. Diversifikasi bisnis penting. Makanya, saya mempersiapkan beberapa bisnis baru, di antaranya dua bisnis digital. Pertama bernama Automo yang merupakan marketplace penyewaan untuk mobil, termasuk supercar, kapal, dan juga pesawat. Automo berbasis di Singapura tetapi sudah berkantor di Jakarta. Kedua adalah Sainmaco yang mengembangkan teknologi blockchain yang juga di Singapura. Saya telah investasi di kedua perusahaan itu tersebut.◆           


Reporter: Tabloid Kontan
Editor: Tri Adi

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Redaksi | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0009 || diagnostic_api_kanan = 0.0501 || diagnostic_web = 0.2438

Close [X]
×