kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45989,59   -6,37   -0.64%
  • EMAS998.000 -0,60%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Selagi masih berkhayal, radio tidak akan mati


Kamis, 01 Agustus 2019 / 09:55 WIB
Selagi masih berkhayal, radio tidak akan mati


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Tri Adi

Perkembangan industri media sedang mengarah ke dunia digital. Agar tidak tertinggal, masing-masing pemainnya perlu bersiap diri untuk menuju ke arah sana. Kepada Jurnalis Tabloid KONTAN Putri Werdiningsih, Adrian Syarkawi, CEO PT Mahaka Radio Integra Tbk berbagi strategi dan rencananya untuk mengembangkan bisnis radio digital.

Sekitar tahun 2000, saat Mahaka Group sedang mencoba membangun radio, mereka mencari profesional yang bisa menjalankan bisnis. Saya direkrut sebagai station manager pada tahun itu dan bergabung di Radio One. Kemudian, saya naik sebagai assistant operation director, lalu naik jabatan menjadi direktur, dan pada akhirnya menjadi Chief Executive Officer (CEO) sejak tahun 2010.

PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) baru terbentuk di tahun 2017 sebagai holding dari beberapa radio yang kami miliki. Namun, sebelum MARI terbentuk, saya sudah terlebih dulu menjadi CEO di tujuh anak usaha radio itu.

Saat saya ditunjuk untuk memimpin bisnis radio, saya seperti diberi tantangan. Saya mau melewati batas kemampuan sebuah radio, baik secara pendapatan maupun keuntungan. Saya menantang diri saya sendiri untuk menerobos batas itu.

Di dalam bisnis radio, ada banyak paradigma yang terbentuk. Misalnya, banyak yang bilang pendapatan radio paling tinggi sekian. Kemudian dari sisi pendengar, tidak mungkin ada radio non-dangdut yang mengalahkan radio dangdut. Saya ingin mengubah itu. Alhamdulillah, terbukti pendapatan bisnis radio bisa tembus 2-3 kali lipat dari paradigma itu dan Gen FM berhasil mengalahkan radio dangdut di tahun 20102011.


Ekspansi ke digital

Bagi saya, sekarang MARI itu bukan sekadar radio, tetapi MARI adalah audio content provider. Meski salah satu bentuknya melalui radio, tetapi kami juga akan masuk ke platform digital. Makanya tahun lalu, dibentuklah PT Mahaka Radio Digital.

Tujuan pembentukan ini adalah memperkuat peran sebagai audio content provider. Kami berharap bisa menjadi market leader. Nantinya, kue bisnis ini akan lebih besar daripada hanya bermain di area radio. Peminatnya diperkirakan lebih tinggi dari peminat radio.

PT Mahaka Radio Digital akan menjadi perusahaan yang menjalankan aplikasi NOISE. Aplikasi itu akan menjadi rumah dari streaming 7 radio kami. Beberapa waktu lalu, kami meluncurkan channel baru yang hanya bisa didengarkan di aplikasi NOISE, yaitu konten religi yang bernama Raya Channel.

Religi dipilih lantaran dari 7 radio kami, tidak ada yang bermain di area itu. Sedangkan pasar di Indonesia ada yang suka dengan religi. Pasar mana lagi yang belum kami ambil, makanya kami memilih masuk ke sana. Isi Raya Channel ini lagu religi dan dakwah pendek.

Kami juga melakukan diferensiasi konten. Saat ini, apa yang terjadi di radio FM dan di Noise berbeda. Tapi, jika memungkinkan, kami akan melakukan kolaborasi. Strategi itu yang akan kami mainkan.

Secara kue iklan, ada kue untuk iklan digital dan ada kue sendiri untuk iklan di radio. Walaupun dari laporan keuangan, saat ini kontribusi iklan radio masih cukup besar, tetapi saya melihat ada peluang iklan digital ke sana.

Sekarang, iklan digital belum saya dorong secara pendapatan. Saya mau angka digitalnya tumbuh dulu. Jadi pekerjaan rumah saat ini adalah bagaimana membesarkan pengunduh dan pengguna aktif. Bulan September nanti, akan diluncurkan versi aplikasi terbaru NOISE.

Tahun depan, kami baru akan mulai mengejar pendapatan iklan digital. Kami sudah punya strategi sendiri yang berbeda dari semua platform iklan digital lainnya. Roh kami adalah radio, jadi kami akan tetap bermain dalam konsep iklan radio, tetapi dalam versi digital.

Saya yakin prospek iklan radio digital cukup besar. Kalau sekarang porsinya masih 2%3%, nantinya pelan-pelan bisa naik ke 10%. Di Indonesia, pengguna digital itu besar banget, tetapi saat ini masih ada ketimpangan karena pengiklan masih belum mengalokasikan belanja iklannya ke digital. Sudah mulai menjadi pilihan, tetapi alokasinya belum besar.


Radio terus tumbuh

Saya punya keyakinan, radio tidak akan mati. Selagi orang masih suka berkhayal, radio tidak akan mati. Sebab, media yang memainkan daya imaginasi orang, ya, cuma radio. Jadi, ketika orang masih suka berkhayal dan berimajinasi, buat saya, media radio tidak akan tergantikan.

Kunci bisnis radio bisa bertahan adalah riset. Saya selalu tekankan ke tim untuk jangan merasa paling pintar, paling tahu terhadap bisnis yang dijalani. Apalagi, dengan konsep radio yang tidak berbayar, tidak akan ada usaha orang untuk memilih media kami.

Berbeda kalau media berbayar. Kan rugi kalau tidak dipakai, karena dia sudah bayar. Karena itulah, kami harus peka mencari tahu apa yang dicari orang, apa yang tidak disukai orang, bagaimana kebutuhan mereka ke depan.

Kalau untuk proyek baru, riset bisa dilakukan tiga bulan. Tetapi, setiap hari, riset juga harus dilakukan. Misalnya, kami harus tahu lagu apa yang cocok dipasang? Masih oke tidak untuk diputar besok? Ini bisa dilakukan dengan membuka Youtube, untuk tahu kenapa penontonnya bisa lebih tinggi. Apakah karena pasarnya kuat? Ataukah kontennya? Atau hanya karena orang sedang suka menertawakan orang lain?

Tantangan terberat bisnis radio adalah mengikuti selera pasar. Kalau dulu, bisa dibilang polanya media driven. Kami yang mengarahkan pasar untuk menjadi apa yang mau kami bentuk. Tetapi sekarang terbalik. Pasar yang mengarahkan media untuk menjadi seperti mau mereka.

Sekarang dengan adanya on demand, semua konten bisa diunggah dengan mudah dan gratis. Semua orang menjadi pembuat konten. Saya selalu bilang ke tim bahwa saingan radio sekarang bukan hanya sesama radio, tetapi termasuk key opinion leader (KOL) dan pembuat konten di Youtube.

Adrian Syarkawi
CEO PT Mahaka Radio Integra Tbk

Pantang dicucikan oleh pembantu
 
Rutinitas pekerjaan yang sangat padat ternyata tak membuat CEO PT Mahaka Radio Integra Tbk, Adrian Syarkawi, lupa akan hobinya. Meski kini sudah tak punya banyak waktu untuk berolahraga, tetapi ayah dua orang anak ini tetap menyempatkan diri menonton pertandingan sepak bola tim favoritnya.

Adrian merupakan fans garis keras Manchester United (MU). Ia mulai menjadi The Red Army sejak Eric Cantona masih bermain di sana. Namun, yang paling diidolakannya adalah pelatih MU, Alex Ferguson.

Demi menonton pertandingan MU, bos MARI ini pernah rela bolak balik Jakarta-Inggris dalam waktu singkat. Itu terjadi di tahun 2017, saat pertandingan big match MU melawan Liverpool. Saya pernah pagi baru sampai Old Trafford, lalu malamnya nonton pertandingan, lantas keesokan harinya sudah kembali lagi ke Jakarta, kenangnya.

Tak hanya menonton pertandingan, tapi sejak 5 tahun lalu, Adrian mulai berburu pernak-pernik Setan Merah. Di rumahnya, ada lemari besar khusus untuk menyimpan hasil buruannya dari berbagai tempat. Jika tak sempat membeli langsung di Old Trafford, biasanya ia memilih membeli pernak pernik secara online di MU Official Store.

Ada dua koleksi yang paling disayanginya, yaitu cincin kejuaraan dan sepatu MU yang hanya dijual di Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Adrian berusaha keras bisa memboyong sepatu itu ke tanah air. Prosesnya sekitar 2 bulan3 bulan, cetusnya.

Berkat MU pula, kini Adrian juga menjadi kolektor sneakers. Setiap ada merek sepatu yang menjadi sponsor Setan Merah, ia pasti akan membeli sneakers keluaran merek tersebut. Selalu seperti itu setiap kali terjadi pergantian sponsor.

Kecintaannya pada MU juga tecermin dari keseharian bos MARI ini. Setiap hari, pasti ada saja atribut MU yang melekat di tubuhnya, entah itu jersey, kemeja, ikat pinggang, jam tangan, atau sepatu. "Biaya koleksi ini mahal, karena itu saya enggak bolehin dicuci sama pembantu. Semuanya harus laundry, takut risiko rusak," paparnya.

Untuk koleksi sneakers, pria yang berulang tahun setiap 9 Agustus ini sudah sempat mendapatkan peringatan dari sang istri. Soalnya, koleksi sneakers-nya sudah terlalu banyak. Untungnya, hobi mengumpulkan pernak-pernik MU masih mendapat dukungan penuh keluarga. Setiap ulang tahun, pasti anak dan istrinya akan memberikan kado atribut MU.

Meski memiliki dua jagoan yang juga penggemar bola, ternyata hobinya mengoleksi atribut MU tak bisa diwariskan. Pasalnya, dua anak Adrian bukan fans MU. "Mereka lebih mengidolakan klub sepak bola asal Spanyol dan Italia. Di rumah, cuma saya sendiri yang suka MU," tutupnya.

Putri Werdiningsih

Beramal dengan senyum
 
Adrian Syarkawi rupanya tidak hanya menyandang jabatan sebagai CEO di PT Mahaka Radio Integra Tbk. (MARI). Ia juga menduduki pucuk pimpinan beberapa anak usaha Mahaka Group. Namanya juga tercatat sebagai CEO di perusahaan induk usaha MARI, yaitu PT Mahaka Media Tbk.

Sejak 4 tahun5 tahun lalu, Adrian mulai merangkap banyak jabatan. Jika dihitung, sekarang ini ada belasan perusahaan yang menjadi tanggungjawabnya. "Setiap tahun, pasti bertambah lagi," ungkapnya.

Menyandang banyak kepercayaan bukan hal yang mudah. Pria berusia 48 tahun ini juga sempat mengalami kesulitan karena lokasi kantor yang berbeda-beda. Beruntung sang bos, Erick Thohir, memperbolehkannya menggabungkan kantor di dua lokasi yang berdekatan. Mahaka Media berkantor di Sahid Office dan Mahaka Radio di Menara Imperium.

Meski persoalan mobilitas sedikit teratasi, tetapi menurut Adrian, tantangannya kini terletak bagaimana kemampuan mengubah topik pembahasan. Biasanya, ia menarik nafas sebelum berpindah membahas topik lain. "Pindahnya harus cepat, seperti berada di lorong waktu," kekehnya.

Baginya kunci untuk menjalankan semua tugasnya adalah enjoy. Bukan berarti tidak terbebas dari stres, tetapi ia selalu berkeyakinan target seberat apa pun kalau dinikmati pasti tidak akan terasa berat. Budaya itulah yang selalu ditularkan ke semua anak buahnya.

Justru dengan berbagai tanggung jawab yang disandangnya, Adrian banyak mendapat hal positif. Keberhasilan yang berhasil dibangun di suatu perusahaan A, pasti akan ditularkannya ke perusahaan lain.

Sekarang ini, yang sedang dikembangkannya di semua perusahaan adalah budaya senyum dan tos. Adrian mulai menerapkannya di PT Mahaka Radio Integra Tbk. Sebelum memberikan layanan kepada klien, harus diawali dengan senyum. Kemudian, apa pun yang dibuat juga dilakukan tos untuk menghargai semua orang, paparnya.

Ide ini diperoleh Adrian saat liburan ke Bali akhir 2018 silam. Ia mendapat inspirasi bahwa beramal bisa dilakukan dengan senyum. Ketika diadopsi ke ranah media tentunya ini bisa berpengaruh besar pada layanan yang diberikan kepada pendengar dan klien.

Sementara budaya tos dicanangkannya untuk memperkuat hubungan tim. Adrian ingin semua tim merasa memiliki peran yang penting. Di MARI itu, kita bukan Batman atau Superman, tetapi Avengers yang rame-rame, cetusnya.

Karena tingkat interaktifnya lebih tinggi, maka dua budaya ini sengaja diterapkan pertama di bisnis radio. Adrian optimistis, jika dua strategi ini berhasil diterapkannya, hal itu akan meringankan langkahnya untuk mengembangkan berbagai perusahaan di bawah tanggung jawabnya tahun depan.♦

Putri Werdiningsih

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×